Kuliah Desain yang Naudzubillah

“Hari yakin ga terlibat macam-macam, kan? Narkoba ga? Habis tiap hari minta kirim duit melulu! Papa kan jadi curiga! Kalau gini Papa bisa sakit jantung lagi nih..”

“Masak ga bisa hemat? Kakak aja dulu udah kuliah di Institut Gajah Duduk sampai S2 ga segitu mahalnya. Masak harus beli tinta tiap bulan? Kan kerjaannya cuma gambar-gambar. Kan udah dibeliin komputer! Masa mama masih dimintain duit juga? “

Komentar-komentar di atas selalu mampir kalau saya butuh uang untuk bikin tugas. Apalagi kalau udah dekat ujian. Memang pada dasarnya uang kuliah dan semester desain ga jauh beda dengan kuliah lain. Tapi banyak hal yang bikin kami mahasiswa-mahasiswa desain harus tunggang langgang menuhin biaya yang ga pernah diduga besarnya.

1. m.a=F, bukan F=m.a

Beda dengan praktikum fisika atau kimia, sejak awal kita sudah dituntut untuk mendalami dulu masalah baru membuat solusinya, bukan mengambil kesimpulan setelah melakukan praktek. Lagipula masalah-masalah desain ga pernah timbul dari laboratorium.

Saya jadi ingat waktu menelaah masalah di Blue Bird Group harus gonta-ganti naik busway-taksi hanya untuk ngejar jadwal wawancara. Itu saja sudah habis nyaris 100 ribuan untuk sekali wawancara. Belum nanti kalau hasil wawancara ga lengkap harus tambahin data lewat internet atau nyari-nyari bukunya.

Nah.. buat anak desain, Kuliah Praktek itu udah dimulai sejak semester 3. Ga ada bayaran pula!

2. Alat

Siapa bilang untuk mendesain hanya perlu komputer? Kebanyakan karya desain menuntut gambar yang dibuat dengan tangan. Nah kalau untuk scan saja sudah 3500 terus beli kertas 11.000 belum alat gambar kaya pastel yang paling ga 40 ribu. Totalnya saja sudah berapa?

Belum lagi kalau butuh foto. Kebanyakan foto-foto di internet tidak layak untuk dicetak karena terlalu kecil, belum lagi masalah hak cipta. Bayangkan aja kalau dibutuhkan 30 foto, dan dari 10 kali shoot cuma dapat yang bagus satu. Mau beli film berapa roll?

Camkan, bener-bener camkan. Beliin komputer untuk anak yang kuliah desain bukan berarti semua masalahnya selesai. Itu sama aja nepok lalat lalu berharap gajah mati.

3. Kok bodoh? Coba lagi….

Ada iblis besar yang paling ditakuti mahasiswa desain: ASISTENSI! Banyak ide yang sudah disusun dengan runtun dan lengkap selama berhari-hari harus kandas hanya karena dosen ga suka atau setuju. Kalau sudah begini ya nangis deh, pulang…

Jangan lupa besok balik asistensi lagi, ya!

4. Proofprinting

Untuk dapat hasil cetak bagus, desainer harus bisa membuat proofprinting yang sempurna. Masalahnya percetakan digital di Indonesia rata-rata cuma didukung mesin bagus, bukan SDM berkualitas. Alhasil untuk dapat hasil bener seringkali harus berkali-kali dicetak ulang. Sehalaman saja sudah 10 ribu, gimana kalau bikin company profile 35 lembar+dua kali ulang karena gagal?!

5. Referensi

Coba cari buku tentang warna di toko buku. Buku yang benar-benar membahas desain ga akan jauh-jauh dari angka 300 ribu. Fotocopy mana bisa. Warnanya jadi hilang toh? Nah, bayangkan kalau mahasiswa desain disuruh baca buku sebanyak mahasiswa teknik. Apa ga teler?

images.jpg

Argggh!.. sampai kapan ya orang-orang bisa memahami kuliah desain yang sebenarnya?

Gambar di atas diculik dari situs japantoday tanpa izin. Cuma pake resolusi rendah, kok.

Iklan

5 Responses to “Kuliah Desain yang Naudzubillah”


  1. 1 abdulsomad 11 November, 2007 pukul 9:43 pm

    assyalamualaikum
    maaf comment pertamax

  2. 2 hariadhi 11 November, 2007 pukul 9:58 pm

    waalaikumussalam wak, 😀

  3. 3 kuchikuchi 12 November, 2007 pukul 1:17 am

    Hehe,gw jg suka liat2 buku design di ak.sa.ra..Lucu2 & refreshing bgt, tp mahalnya Masya Allah deh.. Cukup baca disana aja 😀
    btw kuliah gw jg bkn jantungan loh pengeluarannya,blm kl mau penelitian skripsi,perlu mencit 90ekor @Rp.5rb, blm mknannya, blm obat2annya, ongkos bolak-balik ngurusin mrk.. Jd curiga,jgn2 profesi sbg mahasiswa itu yg paling bnyk buang uang dan SDA ya (jutaan kilogram kertas yg kt pake kan turut menghabiskan pepohonan di dunia) hihi

  4. 4 hariadhi 12 November, 2007 pukul 10:45 am

    hahahahaha…Betul. Saya pikir mahasiswa itu profesi ala romusha. Keringatnya diperas, tapi ga pernah dapat gaji. Belum kalau bahan penelitiannya malah dipake dosen tanpa permisi. Heheheh….
    *Berharap tulisan ini ga dibaca dosen-dosen IKJ 😀

  5. 5 anonymous 13 Juli, 2012 pukul 12:29 am

    Tapi kan sebanding entar abis lulus prospek kerjanya bagus dan ga sembarangan, kalo kita ngedalemin desain bener2, banyak perusahaan yg bakal mau jd klien kita dan gajinya ga nanggung2 gedenya.

    kalo masalah buku mahal mah semua kuliah jg begitu. kedokteran lebih parah lagi, pentingnya warna ngebedain aliran darah yg mana jadi gabisa foto kopi sama skali bukunya. Kalau desain kan mencakup banyak hal ga cuma warna, tp ada topografi, photography, dll


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




Bumi Magenta!

Arsip

Bebas bertanggung jawab

Tulisan di blog ini ada di bawah lisensi Creative Commons with attribution 2.5. Syarat untuk menyalin blog ini adalah menyertakan url blog ini sebagai sumber.
November 2007
S S R K J S M
« Okt   Des »
 1234
567891011
12131415161718
19202122232425
2627282930  

%d blogger menyukai ini: