The Power of Blogging

Jangan takut, yang saya bahas bukan Pesta Blogger 2007 yang riuh itu. Bukan pula retorika soal bagaimana kekuatan sosial blogosphere bisa menjatuhkan kepakaran Mr. You Know Who di internet.

Saya justru mau membahas efek negatif ngeblog dari keluhan pacar saya belakangan:

“Iye.. gw liat lu mulai ada perubahan. Hati-hati kalau ngeblog. Jangan jadi snob. Merasa diri paling bener, lalu menganggap orang lain ga tau apa-apa. Kebanyakan orang yang ngeblog seperti itu.”

Tentu saja, karena saya termasuk golongan orang ngeblog keluhan seperti itu terasa menyengat. Sejak kapan saya nulis dengan kesombongan? Sejak kapan juga saya merendahkan orang lain? Ini kan blog, jadi saya bisa tulis apapun yang saya mau berdasarkan sudut pandang sendiri, dong?

Tapi setelah dipikir-pikir, seminggu kemudian saya terperangah, ada benarnya juga keluhan itu.

Blog memberi kemudahan kita untuk mengaktualisasikan diri, mendapat pengakuan yang sebelumnya kita tidak punya.  Bahkan seorang pecundang di dunia nyata sekalipun bisa jadi hero kalau dia berani menulis dan kebetulan dapat kesempatan jadi seleb.

Tapi saking mudahnya, banyak dari kita tenggelam dalam laut ke”aku”an itu. Bagaimana tidak? Blog adalah sebuah kerajaan kecil. Rajanya, oh tidak, tuhannya adalah kita. Berbeda dengan forum internet atau komunitas wiki, misalnya, di blog hampir tidak ada kontrol sosial. Dengan mengangkat isu kontroversial, pengunjung akan membanjir, kita bisa mengarahkan pemikiran ratusan orang kepada ide yang kita mau.

Ada comment bernada miring soal pendapat kita? Tinggal moderasi komentar atau hapus. Kalau perlu masukin spam sekalian. Atau biar tidak kelihatan barbar, buat lagi post baru yang menyerang komentar orang itu. Ajak pendukung anda mencaci-maki dia bersama-sama. Diskreditkan sehingga lain kali dia kapok datang lagi. Dengan begitu tidak akan ada lagi yang berani menentang anda.

Saya terperangah dengan pemikiran ini. Kenyataannya memang sekarang trendnya membuat blog “pintar”. Semua orang sibuk saling mengkritik, saling menjatuhkan, meninggikan diri. Kalau tidak punya kapasitas untuk itu, jangan khawatir, ada artikel-artikel panjang seperti di Wikipedia untuk dicopypaste supaya blog kita terlihat serius. Atau salin blog seleb yang topiknya lagi berkibar. Entah isinya benar atau salah, masa bodo. Yang penting isinya terlihat pintar.

Walau tidak ikutan ngeblog, pacar saya sudah jauh lebih dulu merenungkan ini, sementara saya masih ketinggalan kereta.

Karena itu saya pikir sudah saatnya kita meredefinisi kegiatan ngeblog. Mencurahkan pemikiran mungkin sah-sah saja. Tapi dengan ngeblog bukan berarti kita dibebani kewajiban untuk menulis hal-hal smart, menjadi guru terhebat di dunia, atau menjadi orang paling berpengaruh. Saya pikir blog tidak dirancang untuk itu.

Bagaimanapun blog hanyalah alat. Kita tidak bisa menyalahkan sepenuhnya masalah ini kepada pencipta trend ngeblog, atau siapa yang dulu  mencetuskan ide membuat wordpress. Mungkin kita saja yang harus menilai jauh ke dalam hati.

Hayo, untuk apa sebenarnya anda ngeblog?

8 Responses to “The Power of Blogging”


  1. 1 Xaliber von Reginhild 9 November, 2007 pukul 12:07 am

    Saya ngeblog untuk menyalurkan pikiran aja, berhubung lebih pintar menulis daripada bicara…😛

    Tapi memang benar sih. Sangat benar, IMO, terutama ini:

    Bahkan seorang pecundang di dunia nyata sekalipun bisa jadi hero kalau dia berani menulis dan kebetulan dapat kesempatan jadi seleb.

    Tapi kayaknya begitu ya internet…😐

  2. 2 Fa 9 November, 2007 pukul 9:55 am

    wah, kok apa yang dipikirkan pacarnya mas hariadhi ini mirip dg yang saya pikirkan ya? (tp PERCAYALAH saya bukan pacarnya mas hariadhi, hehe). Era kemudahan menulis ini memang punya sisi negatif (sama spt hal2 lain, semua punya dua sisi yg saling berlawanan). Oke, skrg saya ngeblog harus dg lebih hati2 ya?😀

  3. 3 hariadhi 9 November, 2007 pukul 10:41 am

    @Xaliber : betut…betut.. dari eranya game online juga sudah begitu kan?
    @mba Fa: Wah.. jangan-jangan mba Fa ini kembarannya dia ya?😀
    Syukurnya dia cukup pengertian kok kalau saya mulai kelewat batas. Ngingetin tapi ga sampai marah-marah. (jadi inget pengguna wikipedia yang suka dimarahin istrinya kalau udah ngewiki, hehehehehe…)

  4. 4 ichasweb 10 November, 2007 pukul 8:16 pm

    Wah … saya ndak berpikiran sejauh itu, kalo baca tulisan si mas ini, terkesan dunia blog itu menyeramkan, jadi takut nulis.

  5. 5 kuchikuchi 10 November, 2007 pukul 9:16 pm

    saya setuju dengan mbak ichasweb di atas..menurut saya tujuan utama blogging emang utk mengekspresikan diri..jadi entah dia loser or not in real life, kalau dia punya ide dan sudut pandang yang ingin disampaikan, why not? toh orang berhak tidak setuju dengan mereka.. jadi anggapan bahwa “pecundang pun bisa jadi hero di internet” kok agak terdengar kasar dan judgemental ya bagi saya?

    saya sendiri punya blog pribadi emang tujuan dasarnya melampiaskan isi hati (plus mengisi kesuntukan ditengah skripsi :p), dan orang berhak merasa terganggu atau tidak setuju..as long as we’re being honest and not hypocritical, then i don’t think there’s anything wrong with it..

    peace mas hariadhi

  6. 6 hariadhi 10 November, 2007 pukul 10:29 pm

    Wah.. jadi serem ya kesannya? Maaf.. maaf… Ini sebenarnya cuma postingan yang menunjuk ke diri sendiri. Ya tentu saja ga semua orang seperti saya ini, yang kadang punya maksud terselubung kalau ngeblog, =P

    Saya sependapat sama Vinta. Emang masih banyak juga blogger yang mempost apa adanya. Tentu tulisan seperti ini ga masuk sasaran pernyataan “pecundang pun bisa jadi hero di internet”. They ARE the real hero.

    Yang jadi masalah itu ya yang sebagian kecil. (yang saya juga sering masuk di dalamnya), yang berpikir ngeblog itu lebih sebagai tempat menyalurkan kenarsisan diri daripada jadi orang yang humble.

    Ya…. kalau ini postingan ini terasa ngejudge, dan ini adalah pengadilan, tentu tersangka utamanya saya sendiri. hehehe

  7. 7 tikabanget™ 21 Desember, 2007 pukul 11:50 am

    nah..
    sayah ituh ndak punya pacar..
    jadi sapa dong yang ngingetin sayah??!!
    **lirik kanan kiri liar cari target**


  1. 1 Salafi atau Salahi? « Hariadhi Lacak balik pada 10 November, 2007 pukul 12:13 pm

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




Bumi Magenta!

Arsip

Bebas bertanggung jawab

Tulisan di blog ini ada di bawah lisensi Creative Commons with attribution 2.5. Syarat untuk menyalin blog ini adalah menyertakan url blog ini sebagai sumber.
November 2007
S S R K J S M
« Okt   Des »
 1234
567891011
12131415161718
19202122232425
2627282930  

%d blogger menyukai ini: