Arti Sebuah Pelayanan

Tiga hari belakangan ini saya mendapat tiga cerita tentang pelayanan terhadap pelanggan.

Cerita pertama, seorang ibu tua baru saja berjualan baso dengan gerobaknya di depan TIM. Awalnya saya tidak terlalu peduli, toh baso bukan termasuk makanan kesukaan. Tapi seorang mba penjaga portal parkir bercerita kalau baso baru itu laris.

Dengan penasaran, saya datang ke pedagang baso itu. Dulu di kota kelahiran saya kalau ada baso laris biasanya akan ada tudingan macam-macam. Entah pakai daging tikus, ilmu pelet, diludahi tuyul, dikasi bulu ketek. Dengan sekejap akibat cerita seperti itu, si tukang baso bisa gulung tikar.

Tapi yang saya temui hari itu adalah sebuah gerobak baso bersih (entah karena masih baru atau karena banyak memakai warna putih). Dan dengan kalimat sopan, ibu itu selalu menanyakan hal-hal remeh saat meramu basonya “Mau pake bawang, De?”, “Dikasi sawi ga, biar seger?”, “pake kecap?”. Buat sebagian orang yang gila manajemen efisien, hal ini berarti membuang-buang waktu karena konsumen toh tidak membayar untuk pertanyaan itu.

Entah kenapa, walau sejujurnya baso itu biasa saja, hari itu saya bisa pesan porsi besar.

Cerita kedua, teman saya yang jatuh dari Metromini no 17. Gara-garanya aksi saling salip antara pengemudi. Karena persaingan tidak sehat, mereka berusaha saling mendahului. Akibat berebut penumpang yang cuma seharga 2000 perak (ya, mereka menghargai nyawa penumpang hanya 2000 perak), seorang mahasiswa berbakat nyaris tidak lagi bisa melanjutkan kuliahnya. Menurut kesaksian teman saya, kakinya nyaris dilindas ban metromini dan sempat tak sadar beberapa saat.

Tidak ada usaha memperlihatkan rasa menyesal oleh pengemudi tersebut. Teman saya cuma dibelikan sebotol aqua. Dan metromini pun kembali berlalu. Mungkin aksi balapan mereka belum selesai.

Entah kenapa, malam kemarin saya memutus kan naik taksi untuk pulang daripada harus ikut-ikutan kehilangan kaki.

Cerita ketiga, kemarin saya melihat koran politik berskala nasional. Di taglinenya mereka berani mengklaim sebagai “The Political News Leader”. Headlinenya membahas SBY yang berani melanggar “Pantangan Angka 3”. Berdasarkan ramalan Jayabaya, kata Ki Joko Bodo, pemimpin yang berani menjejakkan kakinya di Kediri. Katanya (lagi) 3 bulan setelah itu SBY akan jatuh, eh ralat, tidak terpilih lagi sebagai presiden, katanya.

Dan hari ini masalah itu lagi-lagi dibahas oleh si koran yang menganggap dirinya pemimpin berita politik itu. Mitosnya lagi, ada angka 9 yang membuat SBY berani mengunjungi rakyat Gunung Kelud. Jadi tidak perlu takut turun dari kekuasaan kalau mengunjungi korban.

Bukan masalah ramal-meramal. Tapi saya ingin bertanya, apakah kursi presiden sebegitu pentingnya dibanding penderitaan rakyat Gunung Kelud? Kalau begitu, apa bedanya politikus dan wartawan politik di Indonesia dengan supir Metromini ya? Demi mengejar setoran dan ego ingin menjadi supir paling ngebut, konsumen dilupakan. Kalau perlu tusuk mereka, dan ambil uangnya. Toh tujuan utama hidup kita cuma untuk kaya dan berkuasa.

Jadinya lucu kalau mereka mencatut nama RAKYAT untuk nama korannya, sementara sudut pandang yang mereka ambil cuma bagaimana cara mendapat kekuasaan dan mempertahankannya. Kalau perlu sikut kanan kiri, jilat yang di atas dan injak yang di bawah.

Kalau begitu saya pikir pantas saja Ki Joko Bodo sampai sekarang cuma jadi paranormal, sementara SBY sudah jadi ngicip jadi Presiden.

Eh… Entah kenapa, mulai besok saya memutuskan malas beli koran. Apalagi yang pake catut-catut nama rakyat

Iklan

0 Responses to “Arti Sebuah Pelayanan”



  1. Tinggalkan sebuah Komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




Bumi Magenta!

Arsip

Bebas bertanggung jawab

Tulisan di blog ini ada di bawah lisensi Creative Commons with attribution 2.5. Syarat untuk menyalin blog ini adalah menyertakan url blog ini sebagai sumber.
Oktober 2007
S S R K J S M
« Sep   Nov »
1234567
891011121314
15161718192021
22232425262728
293031  

%d blogger menyukai ini: