Borjuisme Seni

Hari ini sudah nonton acara Kick Andy?

Bintang yang ditampilkan adalah Kangen Band. Sebuah grup yang katanya sudah dibajak bahkan sebelum masuk major label. Hebatnya walaupun dihujat terkenal dengan teknik bermusik pas-pasan, band ini sudah meraih penghargaan platinum. Sampai-sampai ada yang terinspirasi membuat lagu rap hanya untuk mengejek mereka. Di berbagai forum dan blog pun menjadi kontroversi mengapa major label bisa kecolongan band dengan kualitas pas-pasan seperti ini.

Kita semua kesal disuguhi musik katro, yang katanya lebih pas disebut musik tukang cendol. Semua orang menghujat Kangen Band karena merasa dipaksa mendengar dari kelas bawah. Banyak dari kita begitu ketakutan dicap memiliki selera rendah kalau ketahuan nyimpan album mereka di laptop.

Tapi jujur sajalah, toh banyak juga dari kita yang kalau dengar Kangen Band di radio tiba-tiba jemari dengan asyiknya mengetuk-ngetuk setir mobil.

Sadarkah kita? Karya-karya seni terbaik tidak muncul dari teknik musik terbaik, ataupun pemusik lulusan sekolah seni ternama. Eminem tidak mengambil S1 bidang musik. Rap tidak hadir dari pertunjukan orkestra. Jazz muncul dari masyarakat budak yang di masanya sangat terhina. Seagung apapun Beethoven, ia tidak dianugerahi kemampuan menciptakan musik Rock.

Kalau menengok ke arah seni lukis, misalnya, kita akan melihat kenyataan bahwa Impresionisme pada awalnya juga dicap sebagai kumpulan pelukis berskill payah. Vincent van Gogh juga dihina hingga akhir hayatnya. Michaelangelo Buonarotti awalnya juga bukan termasuk pelukis yang diperhitungkan “skillnya” oleh kalangan gereja.

Masalahnya adalah di dalam masyarakat berbudaya sering terjadi pemeringkatan. Peringkat ini ditentukan oleh status dan kekuatannya di dalam masyarakat. Jika menengok era Revolusi Perancis, kekuasaan ini dipegang oleh kalangan borjuis, kalangan yang walaupun hanya berjumlah segelintir namun (merasa) memiliki hak menentukan apa yang menjadi seni berkualitas. Bagi mereka apapun yang belum terasa enak di telinga, belum terasa memanjakan mata, berarti belum memiliki nilai seni. Artinya lagi karya tersebut hanyalah karya seni milik kaum jelata, karya seni kelas rendah.

Wujud borjuisme seni bukan hanya tertuju kepada kalangan berduit. Pada abad pertengahan, pihak gerejalah yang merasa memiliki kekuatan ini. Pada era imperialisme, bangsawan merasa merekalah penentu nilai-nilai seni. Pada era revolusi industri, berganti kepada kalangan pemilik kapital. Bagaimana dengan era modern?Ternyata kekuasaan ini telah direbut oleh segelintir orang yang merasa memiliki pendidikan tinggi, alias akademisi. Entah bidang ilmu mereka berhubungan dengan seni atau tidak, tapi mereka sudah merasa jadi juri, mana seni berkelas dan mana seni ndeso. Merekalah borjuis seni abad ini. Repotnya lagi, banyak yang pendidikan pas-pasan juga mengaku-aku sebagai akademisi.

Padahal jika menilik kembali asal seni kita harus sadar bahwa tidak ada batasan apapun dalam menciptakan karya seni. Juga tidak ada relevansi jenis karya seni tertentu dengan kalangan yang menikmatinya. Seni adalah salah satu hasil dari kebudayaan seluruh masyarakat. Yang membedakan masing-masing karya hanyalah tingkat ekspresinya, relevankah karya seni tersebut dengan situasi masyarakat sekarang atau tidak.

Maka menjadi lucu sekali bila kita lalu mengagungkan Jazz dan Blues sebagai musik berkelas, padahal kita tidak mempunyai sejarah perbudakan. Atau hip-hop dan rap sebagai musik nomor satu padahal street art di Indonesia masih sedang mencari-cari bentuknya. Rock hingga Rock progressive pun rasanya belum menempati musik kelas atas, karena nyatanya kita belum pernah mengalami kebudayaan Hippies.

Karena itu kita tidak perlu menangisi kenapa tidak pernah ada musikus dari Indonesia yang bisa sekelas Enya, Beatles, Rolling Stones, Harry Belafonte, Frank Sinatra, ataupun Dream Theater. Toh kenyataannya kita sebagai penikmat cuma bisa sibuk mengadili kelas-kelas karya seni. Begitu ada “musik kelas rendah” muncul ke permukaan, langsung disikat. Wong didengar saja belum…ditelaah, apalagi.

Berbahayakah borjuisme seni? Secara kasatmata tidak. Mungkin kita bisa beralasan hal ini bisa menjadi alat pencambuk pemusik untuk berkarya lebih baik. Namun kengototan ini dalam masa panjang bisa membuat seni, dalam hal ini musik, tidak bisa berkembang.

Akibatnya era “klasik” musik Indonesia sudah di depan mata. Peraturan-peraturan kaku soal “seni yang bagus” dibuat dan dipaksakan secara turun-temurun.

Dampak negatifnya, seniman terpaksa membuat karyanya serumit mungkin dengan teknik yang terlihat hebat hanya untuk dianggap berkelas, namun kehilangan keekspresifannya. Persis kasus musik klasik. Berkelas, namun membosankan dan kehilangan jiwa.

Saya tidak mau munafik, saya juga mungkin muntah kalau diperdengarkan musik Kangen Band terus-terusan. Tapi setidaknya kalau mau muntah, muntahlah di tempat yang sepi dan lap lagi. Jadi orang lain tidak ikut-ikutan muntah ngeliat muntahan kita.

Blog Firman Firdaus juga sudah pernah membahas ini sebelumnya

Iklan

19 Responses to “Borjuisme Seni”


  1. 1 Marduk 12 November, 2007 pukul 3:15 am

    Kangen band adalah (for lack of better word) artist. Dan sebagai artist/pelaku seni Kangen Band harus selalu terbuka untuk review. Walau banyak orang meyakini bahwa yang namanya selera tidak bisa diperdebatkan bla bla bla. Faktanya, se subjektif apapun seni musik, tetap ada parameter yang jelas tentang mana tekhnik yang benar dan mana yang salah.

    Ini review saya terhadap mereka, (mo setuju mo engga, terserah):

    Kangen band adalah sebuah band dengan naluri bermusik yang amat terasah. Melodi melodi dalam lagu mereka mampu untuk mempermainkan emosi pendengarnya, ditambah lagi dengan olah vokal yang prima dari sang vokalis makin membuat pengalaman mendengar lagu Kangen band teramat berkesan. Penampilan para personilnya yang atraktif juga menjadi nilai plus buat mereka.

    Tapi boong….

    Yang bener….

    Lirik mereka keluar jalur, nada datar, musik ga rapi, not ga maksimal, ga ada pencapaian klimaks lagu, vokalis berynyanyi dengan nafas hampa, teknik kacau, not meleset setengah sampai satu nada, ketahanan vokal omong kosong, goyang saat menyanyi, aransemen kacau karena teknik gelombang musik mereka tabrakan, piramida system musik juga ga sesuai aturan, (yang gua sebutin percuma, apa mereka tahu musik? Do they even care?) Suara keluar dri mulut dengan teknik perut, kepala dan nada tinggi dengan nada fokus di dinding mulut. Apa vokalisnya tahu itu? Heh. I doubt it.

    Jadi mas, jangan salahkan para pembenci Kangen Band yang ‘muntah’ melihat sampah yang disajikan on a silver platter. David Naif yang ‘mengkritik’ mereka pun habis dimaki maki oleh penggemar Kangen Band dan mayoritas orang awam yang tolol. Ini bukan lagi soal borjuisme dalam seni atau arogansi kalangan berduit, ini adalah soal mengatakan apa yang harus dikatakan dan bukan mengatakan apa yang ‘enak’ atau ‘civilized’ atau ‘sopan’ untuk dikatakan.

    Akhir kata, Kangen Band memang berhak untuk mengekspresikan seni mereka. Tapi kami pun berhak untuk jujur dengan apa yang kami dengar dan lihat.

    -Peace out-

  2. 2 hariadhi 12 November, 2007 pukul 10:43 am

    Wah, menarik sekali komentarnya. Tentu mereka seharusnya baca komentar mas Marduk ini. Dari tulisannya sih, saya lihat Mas Marduk ahli soal musik dan olah suara.

    Tapi untuk jadi sebuah karya seni, tidak pernah ada aturan “harus rapi”, kan? Masalah civilized atau tidak, itu saya pikir lebih ke arah komersialisasinya. Dan memang anomali banget kalau sekarang malah banyak yang suka musik-musik yang ga rapi. Tapi memang kita ga bisa memprediksi seleran masyarakat, sih ya.

    Karya Affandi dan Van Gogh itu kira-kira cukup civilized ga, mas?

  3. 3 Marduk 12 November, 2007 pukul 6:06 pm

    Saya tahu dikit lah soal musik karena saya bisa dibilang hidup dari musik. Dan seperti kebanyakan pelaku seni lainnya, saya hanya bisa berkata: “Saya masih belajar kok.”

    Van Gogh? Affandi? Saya ga bisa berkomentar karena saya ga berkecimpung di seni lukis. Satu satunya yang saya tahu tentang Van Gogh adalah ia pernah memotong telinganya sendiri sebelum melukis and that’s about it.

    Mohon maaf ya, tapi kalo mas mencoba membuat suatu poin dengan mengambil mereka sebagai contoh, percuma karena sayanya ga ngerti.

  4. 4 hariadhi 12 November, 2007 pukul 10:08 pm

    Van Gogh kira-kira setipe dalam kasus Kangen Band dalam seni lukis. Saat hidup karyanya dicaci maki karena dianggap tidak punya skill. Seni rendahan, karena karyanya dianggap tidak memenuhi standar (yang juga ditetapkan oleh orang-orang yang merasa dirinya paling tahu karya seni lukis bagus itu seperti apa). Teknik melukisnya dinilai payah.

    Dan betul, seperti Mas Marduk bilang, dia sampai memotong telinga hanya karena ingin mempertahankan kualitas estetiknya yang bertentangan dengan banyak orang. Apa boleh buat, dia bukan dari pelukis dari kalangan terpelajar yang belajar teori-teori seni lukis. Ia cuma misionaris lulusan sekolah teologi.

    Tapi setelah mati semua orang berebut memuja dia. Karyanya yang dulu dianggap kacangan malah dipuja-puja. Sebab ia berani mengambil jalur berbeda. Saat pelukis lain sibuk melukis semirip mungkin dengan aslinya (yang waktu itu jadi standar lukisan bagus), ia menggambar dengan sapuan sederhana, mirip kejujuran kanak-kanak.

    Nah, pertanyaan besarnya: Apa kita harus nunggu anggota Kangen Band itu motong kuping dulu atau pada mati semua baru kita akui sebagai karya seni?

    Mas Marduk bisa lihat koleksi Van Gogh di sini:
    http://commons.wikimedia.org/wiki/Van_Gogh

    Artikel van Gogh di sini:
    http://en.wikipedia.org/wiki/Vincent_van_Gogh

  5. 5 andro 19 Desember, 2007 pukul 5:41 pm

    Ehh…musik klasik tuh bukan musik yang kehilangan jiwa, loh. (biarin yg di atas komen soal kangen band, gw mau komen soal paragraf akhir tulisan tadi aja). emang gak disangkal kalo kebanyakan musik klasik lahirnya dari klise, kayak mozart misalnya. namun sejak beethoven muncul dengan musiknya yang impromptu dan ekspresif, akhirnya berubahlah paradigma orang-orang dari mendefinisikan musik sebagai “bunyi2an yg indah dan enak didengar” menjadi “cermin ekspresi jiwa manusia”.

    memang, musik klasik membutuhkan interpretasi yang lebih untuk mencernanya daripada lagu-lagu lainnya. tapi nggak benar kalo kehilangan jiwa. karena bagaimanapun skillful-nya atau “susah”nya musik klasik untuk dimainkan, virtuositas bukanlah tujuan utama dalam musik klasik. Chopin tidak dihargai hanya karena kecepatan lagunya, namun karena keindahan ekspresinya yang diungkap dalam nada-nada. Maksim Mrvica tidak hebat karena dia seorang pianis bertangan cepat–lebih dari itu, karena dia bisa menginterpretasi musik klasik dengan baik dalam setiap permainan pianonya.

    Karena virtuositas yang tanpa “tujuan” penjiwaan dari lagu, itulah yang sesungguhnya membuat lagu jagi gamang, hampa, dan tak berjiwa. Ibarat puisi yang mengobral sejuta kata indah, tapi tidaj ditulis dari hati. tidak tulus. yang ada malah hanya kata gombal. murahan.

    Musik klasik kenyataannya terus berkembang. Malah ada beberapa lagu klasik yang lahirnya dari rakyat jelata. Pianis Perancis Erik Satie membuat musik klasik easy listening sebagai protes sebagai musik di zamannya yang dianggap terlalu susah. Franz Liszt membuat Hungarian Rhapsody no.2 karena terinspirasi musik kaum gipsi. Bela Bartok memfusion musik klasik dengan musik rakyat Hungaria. Bahkan komponis klasik-impresionis terkenal Claude Debussy membuat lagu-lagu simfoninya yang mencolok distinctive dan atmosferik (shg dianggap kontemporer saat itu) karena terinspirasi oleh gamelan Indonesia–saat itu indonesia masih dijajah Belanda.bahkan Enya (yg disebut di atas) sebenernya kan modifikasiin musik primitif juga khan.

    kalo soal musik klasik bosenin atau enggak, itu tergantung tiap orang. tapi kalo gak berjiwa? tunggu dulu.

  6. 6 andro 19 Desember, 2007 pukul 5:50 pm

    Menurut gue yang namanya musisi pastilah bermetamorfosis. Kangen Band bisa kok beranjak dari kualitas underdog ke kualitas lebih baik lagi. Soalnya analogi neh, dulu waktu Enya pertama kali muncul teknik vokalnya gak bagus, terlalu lemes. suara dari nafas paru-paru kayaknya. tapi kelemahan itu tercover karena aransemennya yg bagus. kalo gak percaya tengok aja lagunya I want tomorrow. tapi seiring waktu berlalu suaranya makin matang, musiknya juga. mula-mula gue kirain dia cuman punya suara studio doank karena suaranya yg cenderung echoing and haunting, tapi pas nonton live-nya di youtube ketauanlah ternyata suaranya pas live (waktu tu nonton live Enya di Academy Award ama CBS Saturday) intinya dia gak lip-sync…suaranya pas live ternyata persis sama dengan versi rekamannya.

    itu hanyalah satu contoh kecil yg gw tahu. kalo kangen band mau, mereka bisa kok berusaha untuk bermetamorfosis.

  7. 7 hariadhi 19 Desember, 2007 pukul 8:17 pm

    OK, makasih buat dukungannya, Mas Andro

  8. 8 Marduk 25 Januari, 2008 pukul 7:29 pm

    Nah, pertanyaan besarnya: Apa kita harus nunggu anggota Kangen Band itu motong kuping dulu atau pada mati semua baru kita akui sebagai karya seni?

    Lucu juga kalo ada personil KB yang motong telinganya karena ga kuat dihujat. Hahaha…

    But seriously, dunia musik itu keras dan terkadang kotor mas. Biar gimana juga KB harus berhadapan dangan para kritikus musik yang emang panen ngeliat keterbatasan skill dan penampilan mereka.

    Satu satunya cara yang paling efektif dalam membungkam para kritikus adalah dengan cara tampil baik dan profesional. Sebab mungkin aja KB Van Gogh nya dunia musik kita yang nantinya (setelah mereka mati) karyanya bakalan diperebutkan.

    Tapi kok…. Kayanya ga mungkin ya mas…

    -Peace Out-

  9. 9 hariadhi 25 Januari, 2008 pukul 10:31 pm

    Yah bener. Tentu makin banyak jam terbangnya skill mereka akan terlatih dengan sendirinya. Awal-awal gw denger Padi yang banyak dipuja itu juga mereka main dengan sederhana, ga banyak neko-neko dengan teknik rumit.

  10. 10 alghazali 8 April, 2008 pukul 9:57 am

    tentunya kelas ini berada di atas. pada masa yang lalu mereka yang menguasai seni-seni yang indah-indahdi istana atau kraton. mereka menggunakan rakyat ubntuk mempertunjukkan seni demi kepentingan mereka, berhibur dan menikmati seni sesuatu yang indah dan menarik emosi yang penuh gelora. rakyat biasa dijadikan alat untuk kepuasan golongan atasan. tapi seni tentunya yang indah itu paling digeramo oleh sesiapa. wallahu alam.

  11. 11 alghazali 8 April, 2008 pukul 9:57 am

    tentunya kelas ini berada di atas. pada masa yang lalu mereka yang menguasai seni-seni yang indah-indahdi istana atau kraton. mereka menggunakan rakyat ubntuk mempertunjukkan seni demi kepentingan mereka, berhibur dan menikmati seni sesuatu yang indah dan menarik emosi yang penuh gelora. rakyat biasa dijadikan alat untuk kepuasan golongan atasan. tapi seni tentunya yang indah itu paling digerami oleh sesiapa. wallahu alam.

  12. 12 hariadhi 8 April, 2008 pukul 10:06 am

    lupa ngasih senyum buat semuanya 😉

    selamat berpendapat dengan sehat.

  13. 13 Roy Thaniago 23 Juli, 2008 pukul 10:10 pm

    Saya menyukai seni, mempelajari seni secara akademis maupun alami, mengagungkan musik Bach, tapi juga respek terhadap Kangen Band… Kangen Band itu sahabat buat mereka yg sering dialpakan oleh kita. Selamat berpikir.

    Salam

  14. 14 ree 5 Agustus, 2008 pukul 10:16 pm

    Kangen Band bukan band yang sayaa. Musik mereka juga tidak saya suka. Tapi, itu tidak berarti saya tidak menyukai mereka, membenci mereka, atau merasa punya hak untuk mengolok-olok mereka. Saya juga mantan anak band waktu masih SMP-SMA. Dan kalau mau lihat Kangen Band dengan Sheilla on Seven dulu, minta maaf, permainan musiknya memang kacau. Terutama Mas Erosn kalau main secara live. Tapi kita ga boleh melupakan bahwa Eros mempunyai kelebihan lain. Lirik-lirik dan aransemen yang sederhana tapi bagus (Baru akhir-akhir ini makin berat)membuat dia dikenal sebagai pencipta lagu yang produktif.
    Jangan juga lupa Melly Goeslaw yang ga bisa memainkan alat musik tapi bisa mencipta lagu.
    Lagu itu lahir dari hati, jadi biarkan saja setiap orang menyanyikan nyayian mereka. Itu hak mereka. Kalau kita gak suka, jawabannya sederhana. Ga usah dengar. Tutup kuping. Itu saja.

  15. 15 ree 5 Agustus, 2008 pukul 10:18 pm

    Kangen Band bukan band yang saya suka. Musik mereka juga tidak saya suka. Tapi, itu tidak berarti saya tidak menyukai mereka, membenci mereka, atau merasa punya hak untuk mengolok-olok mereka. Saya juga mantan anak band waktu masih SMP-SMA. Dan kalau mau lihat Kangen Band dengan Sheilla on Seven dulu, minta maaf, permainan musiknya memang kacau. Terutama Mas Erosn kalau main secara live. Tapi kita ga boleh melupakan bahwa Eros mempunyai kelebihan lain. Lirik-lirik dan aransemen yang sederhana tapi bagus (Baru akhir-akhir ini makin berat)membuat dia dikenal sebagai pencipta lagu yang produktif.
    Jangan juga lupa Melly Goeslaw yang ga bisa memainkan alat musik tapi bisa mencipta lagu.
    Lagu itu lahir dari hati, jadi biarkan saja setiap orang menyanyikan nyayian mereka. Itu hak mereka. Biarkan saja Kangen Band dan fansnya menyanyikan lagu mereka. Kalau kita gak suka, jawabannya sederhana. Ga usah dengar. Tutup kuping. Itu saja. Kita mesti menghargai hak setiap orang dan setiap kelompok.

  16. 16 Kreshna Iceheart 12 September, 2008 pukul 2:49 pm

    Test BoldTest Break Double Break

  17. 17 Kreshna Iceheart 12 September, 2008 pukul 2:52 pm

    SANGAT TIDAK ADIL membandingkan Kangen Band dengan Vincent Van Gogh. Van Gogh adalah seniman idealis yang bersedia hidup susah untuk mempertahankan seni dan kreativitasnya, sementara Kangen Band adalah “produk karbitan” kapitalis rekaman yang tidak peduli terhadap kreativitas atau kualitas. Pokoknya yang penting laku, yang penting DAPAT DUIT. Persetan dengan kualitas.

    Kebanyakan musik di Indonesia adalah “musik genjreng-genjreng” dari mulai Peterpan, Kerispatih, sampai Kangen Band. Semuanya dibuat dengan pola “genjreng-genjreng” yang generik dan mudah dibawakan oleh pengamen (supaya cepat populer? Promosi gratis?). Liriknya tidak lebih dari lirik-lirik cinta yang “mudah dicerna” –kadang cengeng. Bohooo. Boo Fucking Hoo.

    Apakah musik-musik semacam itu seni? Mungkin saja. Tetapi apakah musik generik “produksi massal” seperti itu memiliki nilai kreatif dan inovasi? Rasanya tidak. Apakah musik semacam itu menuntut skill yang tinggi? Rasanya tidak. Rasanya “alay-alay” tukang tawuran yang tidak punya skill sekalipun bisa membawakan setiap lagu Kerispatih atau Kangen Band. Tapi yang penting asal laku, iya kan? Jelas berlawanan dengan lukisan Van Gogh yang berani mendobrak “pakem-pakem” yang berlaku di jamannya, sekalipun resikonya adalah tidak laku. Apakah Kangen Band berani memotong telinga sendiri seperti Van Gogh? Hm, sepertinya jangan harap deh.

    Kalau yang disebut sebagai “borjuisme seni” itu adalah “menuntut lebih”, maka saya adalah penganut dan pendukung fanatik borjuisme seni. Kalau yang disebut sebagai “borjuisme seni” itu adalah mengharapkan kreativitas yang lebih, mengharapkan kualitas yang lebih, maka, ya. Saya adalah penganut borjuisme seni. Saya sendiri adalah pencinta Cafe del Mar, Buddha Bar, Bali Lounge, dan Putumayo World Music yang semuanya berani berinovasi dan memajukan kreativitas –walaupun tidak pernah masuk Top Fourties dan tidak laku di MTV.

    Tanpa borjuisme seni, maka kita akan terus dibanjiri oleh SINETRON-SINETRON PEMBODOHAN yang dangkal itu. Indonesia seharusnya bangga dan mampu mengapresiasi karya seniman berkualitas seperti Garin Nugroho. Ironisnya, karya-karya Garin yang mendapat penghargaan internasional itu tidak laku di negeri sendiri. Itulah akibatnya kalau tidak ada borjuisme seni.

    Tanpa borjuisme seni, maka kita akan terus dibanjiri oleh “musik genjreng-genjreng” produksi massal yang generik dan miskin inovasi itu. Sementara itu, musisi yang betul-betul kreatif dan “berani berbeda” seperti Ubiet, Mobil Derek, Rock n Roll Mafia, dan bahkan Maliq n D’Essentials, tidak begitu laku dibandingkan dengan “musik genjreng-genjreng” produksi massal.

    AKIBATNYA SENI DAN MUSIK INDONESIA TIDAK AKAN BERKEMBANG. Mayoritas musisi Indonesia lebih suka berkompromi dengan “musik genjreng-genjreng” yang sudah menjadi “pakem” dari kapitalis-kapitalis industri rekaman. Lama-lama tidak akan ada yang berani untuk kreatif dan berinovasi seperti Ubiet atau Mobil Derek, karena takut tidak laku.

    Itulah akibatnya kalau tidak ada “borjuisme seni”. Seperti itukah masa depan yang kita inginkan untuk Indonesia?

    Sebagai perbandingan, ketika musik hip-hop dari Amerika mulai masuk ke negara Inggris, ternyata para pendengar Inggris tidak puas dengan pola musik seperti itu. Tapi ketidakpuasan itu malah melahirkan aliran musik jenis baru, yaitu “trip hop” yang merupakan eksperimen kombinasi antara hip-hop dengan electronica. Apakah kita akan melihat hal semacam itu di Indonesia? Rasanya tidak, karena kita kekurangan “borjuisme seni”.

    Ketidakpuasan adalah hal yang wajar. “Menuntut lebih” adalah hal yang wajar. Mengharapkan sesuatu yang berbeda adalah hal yang wajar. Dan saya tidak setuju kalau hal tersebut dicaci-maki sebagai “borjuisme-whatever”. Sayangnya mayoritas masyarakat di Indonesia belum mampu untuk “menuntut lebih”, sehingga kita hanya bisa menjadi konsumen-konsumen bodoh yang menjadi favorit para kapitalis industri hiburan (atau industri apapun). Seperti burger MacDonald’s, Kangen Band adalah hasil produksi massal berkualitas rendah, yang mau saja ditelan mentah-mentah oleh masyarakat kita yang masih belum bisa “menuntut lebih”.

    KALAU KITA CINTA INDONESIA, kalau kita ingin melihat seni berkembang di Indonesia, maka marilah kita menganut yang disebut (atau dicaci-maki) sebagai “borjuisme seni” itu, supaya seniman-seniman idealis seperti Ubiet dan Garin Nugroho tetap bisa hidup. Marilah kita menganut borjuisme seni supaya sastrawan seperti Pramoedya Ananta Toer dihargai di negeri sendiri. Marilah kita menganut borjuisme seni supaya kita tidak terus dibanjiri sinetron-sinetron bodoh dan musik genjreng-genjreng yang miskin kreativitas.

    Saya cinta Indonesia, dan karena itulah saya sedih karena Anggun lebih laku di negeri orang daripada di negeri sendiri. Saya sedih karena susah menemukan CD Ubiet di music store. Saya sedih karena film Denias kalah laku dibandingkan dengan sinetron Chintya Louwra atau Marsyanda (huek!).

    Genjreng-genjreng-genjreng sinetron cengeng! Genjreng-genjreng-genjreng Tali Pocong Perawan! Aaaaaarrghh! Somebody please kill me.

  18. 18 hariadhut 12 September, 2008 pukul 3:11 pm

    Pernah dengar istilah pop-art, om?

  19. 19 Raymond Chouda 2 April, 2010 pukul 4:23 pm

    Wah..aku sbg pndengar dan pelaku dlm musik indonesia sungguh di buat serba stuju dgn pendapat2 yg di ungkapkan oleh mas2 di atas..tp aku akan menyimpulkan kontrofersi yg amat klasik ini..jadi intinya,para manusia2 yg lahir dan hidup di indonesia itu sengaja atw tdk sengaja sdh terpengaruhi dan terbiasa telinganya oleh musik ‘khas’ indonesia yg ‘genjreng2’ itu karna hampir setiap hari bermunculan di mana2 seperti di TV,radio,orang yg menyanyi di kafe2 pinggir jln,anak muda yg teriak2 menyanyi dan bergitar di pinggir jln, dsbg..sehingga para pemusik umumnya di indonesia mw tdk mw membuat musik ‘genjreng2’ untuk mencari popularitas di kalangan para pendengar dan penikmat musik ‘khas’ indonesia tadi karna digiurkan oleh uang dan tepuk tangan yg akan berdatangan kpd mereka dari kalangan para penikmat musik ‘khas’ indonesia td atw bisa jg karna didesak oleh keadaan ekonomi para pemusik yg kurang mencukupi hidupnya.contohnya ‘kangen band’..
    Jadi sekarang saya hanya bisa berdoa agar ada seseorang atw sekelompok orang yg pemikiran,pembawaan,dan musikalitasnya dapat membawa indonesia menjadi lebih baik dan setaraf internasional di bidang musiknya..
    AMIN.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




Bumi Magenta!

Arsip

Bebas bertanggung jawab

Tulisan di blog ini ada di bawah lisensi Creative Commons with attribution 2.5. Syarat untuk menyalin blog ini adalah menyertakan url blog ini sebagai sumber.
Oktober 2007
S S R K J S M
« Sep   Nov »
1234567
891011121314
15161718192021
22232425262728
293031  

%d blogger menyukai ini: