Benarkah Warga Papua Tidak Berkebudayaan?

Selama liburan ini saya mendapat tugas kliping sejarah seni rupa Indonesia dari zaman prasejarah. Salah satu hal yang menarik saya temukan bahwa ternyata banyak kebudayaan awal Indonesia, terutama periode mesolitikum, dibawa dan dikembangkan oleh ras papua melanosoid. Mereka datang membawa kebudayaan kapak sumatera dan kapak pendek. Di samping itu manusia Indonesia pada masa ini juga mulai mengenal seni lukis dengan menggunakan pewarna dari tanah merah.

Keberadaan hasil turunan kebudayaan tersebut hingga abad 20 memperlihatkan kegigihan masyarakat Papua mempertahankan kebudayaannya sendiri di tengah serbuan kebudayaan luar yang menganggap dirinya modern. Bentuknya seperti patung-patung Asmat, koteka, peralatan perang, dan lain-lain. Semua dibuat atas alasan religi, dengan mitos-mitos yang tidak pernah membuat bosan untuk didengar.

Tapi kini benda-benda seni itu dihargai tidak lebih dari segepok uang. Itukah kebudayaan?

Memang dengan adanya sentuhan misionaris, perang antar suku dan penyimpangan seksual berkurang. Tapi kenyataannya pengenalan alkohol dan budaya konsumerisme justru merusak kalangan muda Papua. Hingga kini banyak penduduk muda Papua yang bisa mendulang emas menghasilkan jutaan rupiah per hari tapi menghabiskannya dalam semalam di meja judi.

Salah siapa?

Dengan alamnya yang ganas namun penuh kemurahan, kebudayaan asli Papua adalah pilihan yang terbaik. Bagaimanapun kebudayaan tersebut berupaya mengharmoniskan manusia Papua dengan lingkungan. Pengaruh luar justru memperparah kerusakan alam dan cara pikir masyarakat Papua. Akibatnya mereka semakin terpinggirkan oleh kaum pendatang.

Contoh mudah saja. Dulu di Papua sagu berlimpah, masyarakat dengan mudah mencari makanan, Namun akibat serbuan beras, mereka menjadi tergantung tanpa bisa memproduksi sendiri. Akibatnya bahaya kelaparan mulai mengancam. Hidup mati masyarakat Papua kini bergantung kepada segelintir orang luar.
Karena itu anggapan bahwa masyarakat Papua adalah masyarakat terbelakang harus dihentikan sekarang juga. Mereka mungkin perlu memajukan cara pikir dan ilmunya, tapi bukan berarti kebudayaannya harus dibuat “lebih beradab”.

Mungkin kita bisa mencontoh Paul Gauguin, seorang pelukis besar dari abad 18. Ia meninggalkan peradaban modern Perancis dan menuju kebudayaan antik di Polinesia Perancis. Tapi apakah ia memaksakan kemodernan Paris? Tidak, ia lebih memilih mengabadikan keeksotikan pulau tersebut untuk dikabarkan kepada dunia Eropa.

Kita juga bisa, dengan menjadikan itu PR bersama,

Silakan ikut mempelajari kebudayaan zaman batu Indonesia dari sini

9 Responses to “Benarkah Warga Papua Tidak Berkebudayaan?”


  1. 2 J.F.sagrim 18 Februari, 2008 pukul 7:21 pm

    orang papua bukan orang yg tidak punya kebudayaan, tetapi orang papua adalah orang yang memiliki kebudayaan, hanya saja orang papua tidak memiliki satu kebudayaan bersama tetapi beragam budaya, seperti budaya bahasa, budaya berburu, budaya perkawinan yang pastinya antara satu daerah dengan daerah lainnya berbeda. alasannya, jika orang papua tidak berkebutdayaan berarti tidak ada bahasa daerah, sistim kebudayaan hidup baik yang berkaitan dengan sandang, pangan, papan dan teks. jadi kesimpulannya adalah, orang papua adalah merupakan etnis melanesoid yang bukan hanya membawa kapak bahu dan kapak lonjong, tetapi lebih dari itu ia memiliki bahasa tradisional, busana tradisiona, rumah tradisional yang juga digolongkan dalam bangunan appabolang, gaya hidup dan tradisi kehidupan yang unik lainnya. mereka orang yang memiliki jati diri, dia tumbuh dengan keasliannya yang hakiki, hanya saja keeksistensiannya menjadi terkikis akibat pengaruh penkembangan budaya luar. manusia papua dengan cepat mengikuti budaya luar karena mereka tida utuh, sehingga proses akulturasi kebudayaan semakin menyurut kebawah dan bukan keatas.

  2. 3 hariadhi 18 Februari, 2008 pukul 11:11 pm

    makasih untuk tambahan komentarnya, Pak. Saya sudah coba hubungi lewat email tapi gagal terus. Saya tertarik belajar budaya Papua. Sepertinya Pak JF Sagrim lebih ahli soal ini. Kapan-kapan boleh kita ngobrol?

  3. 4 Antex 29 Maret, 2008 pukul 1:38 pm

    makasih atas komentarnya,memang kebudayaan papua sangat banyak tetapi kita satu dan keunikan budayanya pun menarik dari berbagai suku yang ada di tanah papua,hasil kebuyaannya antara lain:moge(pakaian adat cewek),noken anggrek,kaido dll.Makasih….GBU…

  4. 5 Aldi 11 September, 2008 pukul 9:05 am

    lebih jelas dong informasinya

  5. 6 om chis 19 Februari, 2009 pukul 12:26 pm

    selama ini,sering terdengar stereotipe tentang masyarakat papua yang kurang beradab. padahal tuhan menciptakan umatnya dengan segala kesempurnaan dan dibekali dengan kebudayaan masing-masing. bagaimana mungkin kita mengatakan orang papua tidak berbudaya padahal kita belum pernah melihat apa itu papua? bukankah penilaian negatif itu hanya didasarkan pada media yang tidak jelas keabsahannya (kitong bilang KJ). untuk melihat papua yang sesungguhnya datanglah ke papua…dengan demikian akan kita saksikan kebudayaan papua yang asli. bravo papua!

  6. 7 Lusiana 20 Februari, 2009 pukul 9:06 am

    Stereotip tentang kebudayaan orang Papua tersebut sesungguhnya tidak banyak benar, tiap daerah tentunya punya kebudayaan. Hanya saja kebudayaan yang mereka milikilebih bersifat alami, terutama masalah pemakaian baju yang menurut kita kurang seronok. namun bagi saya itu merupakan kekayaan kebudayaan kita yang harus tetap dilestarikan.

  7. 8 JF Hamah Sagrim 25 Februari, 2009 pukul 11:59 pm

    salam dari saya,
    jika kita bicara tentang kebudayaan, maka kita sedang membahas jatidiri seseorang, dan kalau sudah merupakan jati diri, maka tidak mungkin bagi ita untuk menghilangkannya. misalnya UU pornografi yang mana kelihatannya mengikis sebagian daripada budaya papua, padahal itu tidak mungkin secara gampang sebagaimana analisis para perumus UU pronografi itu. budaya orang papua telah ada bersama2 dengan kebradaan mereka, dan jikalau di hilangkan sama saja dengan pembunuhan dan jika budaya itu hilang sama dengan manusianya juga ikut hilang.

    hub saya di
    e-mail
    plato_ayamaru@yahoo.com
    hamahs@hotmail.com


  1. 1 Terima Kasih Untuk Berkunjung « Hariadhi Lacak balik pada 27 Oktober, 2007 pukul 6:07 pm

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




Bumi Magenta!

Arsip

Bebas bertanggung jawab

Tulisan di blog ini ada di bawah lisensi Creative Commons with attribution 2.5. Syarat untuk menyalin blog ini adalah menyertakan url blog ini sebagai sumber.
Oktober 2007
S S R K J S M
« Sep   Nov »
1234567
891011121314
15161718192021
22232425262728
293031  

%d blogger menyukai ini: