Benarkah Kamera Digital Murah?

Beberapa minggu lalu saya menulis tentang perbandingan kamera poket dan SLR. Saat itu salah seorang teman berargumentasi dengan membandingkan biaya pemakaian kamera SLR digital dengan film untuk belajar fotografi. Sejenak kening saya berkerut. Warakadah, sejak kapan kamera film itu mahal?

Akhirnya iseng-iseng saya membuat perbandingan biaya antara kamera film dengan digital. Asumsinya begini: Kamera untuk entry level FM-10 yang saya miliki dengan D40 milik pacar saya. Satunya dulu saya beli 3 juta dalam keadaan baru (2005), sementara D40 pasarannya 6 juta.

Setelah 5 tahun pemakaian, harganya kamera film berkurang sepertiganya alias 200 ribu per tahun, sementara D40 berkurang berkurang setengahnya, alias 600 ribu per tahun. Ini wajar menimbang sisi keantikan kamera film dan trend peralatan digital yang akan selalu keluar teknologi terbaru, sehingga harganya lebih cepat turun. Sementara biaya perawatan juga dianggap lebih tinggi kamera digital, karena ketergantungan kepada sensor, peralatan mekanis, dan sirkuit elektronik, sementara kamera film-analog hanya bergantung kepada peralatan mekanis (film dianggap tidak perlu perawatan). FM-10 butuh 100 ribu per tahun, sementara D40 butuh 200 ribu per tahun.

Kedua hasil pemotretan akan diperlakukan sama, dibuat versi digital. Karena kamera film harus melalui proses scan, maka setiap film dikenakan biaya 50,000 (harga terakhir saya menscan di adorama, sudah termasuk CD) dan 8000 untuk pencucian. Sementara kamera digital memerlukan 8000 untuk biaya burn dan keping CD. Saya cukup bermurah hati untuk pengguna kamera digital dengan mengasumsikan harga cetak foto digital lebih murah, hanya Rp 1500 untuk memperhitungkan kemungkinan gambar-gambar yang bisa didelete. Sementara kamera film butuh Rp. 2000.

Data ini kemudian saya bandingkan dengan teknik acakadut di excel (mohon maaf, dulu kuliah statistik saya cuma C+). Karena tiap orang punya perbedaan pemakaian kamera, saya membuat perbandingan untuk frekuensi pemakaian per tahun. Untuk mempermudah, saya buat grafik perbandingan.

Sim, salabim, Inilah hasilnya!

Ternyata untuk frekuensi pengambilan rendah, di bawah 900 per tahun (baca, batas ini berarti sudah cukup produktif, 83 foto per bulan!), biaya kamera film masih lebih murah. Saya beranggapan hanya profesional yang produktivitas memotretnya bisa di atas batas itu. Beberapa hobiis yang cukup maniak mungkin bisa lebih, tapi saya sendiri hanya sampai batas 500 per tahun. Angka ini bisa lebih kecil lagi untuk pemula yang masih jarang hunting.

1. Saya Menjual Foto, Efisienkah Kamera Digital?

Sedikit tergelitik saya berusaha lebih dalam menelusuri. Andai saya seorang fotografer profesional dengan frekuensi memotret 1000 karya per tahun, apakah selisih biaya produksi ini akan mempengaruhi penghasilan saya? Maka saya mencoba membandingkan penggunaan kedua kamera dalam jangka waktu lama, 1 hingga 15 tahun. Dengan asumsi fotografer Indonesia yang lapar mata soal equipment, belum 5 tahun kamera sudah diganti dengan baru (anggaplah harganya akan selalu sama). Inilah hasilnya!
Saya menemukan bahwa, ternyata untuk 1 tahun pertama selisihnya tidak akan terlalu besar (cuma 64 ribu!). Perbedaannya baru akan terasa untuk pemakaian di atas 5 tahun, sebesar 9 juta. Jika dianggap fotografer berhasil menjual fotonya tiap bulan, akan terjadi pengurangan penghasilan karena pemakaian kamera film sebesar 9 juta per 5 tahun. Selisih biaya ini akan terus naik seiring lamanya pemakaian kamera. 10 tahun berarti 21 juta, 15 tahun 33 juta. Fantastis!

Tapi anda pengguna kamera digital jangan sumringah dulu. Itu hitungan total untuk 5 tahun lebih. Jika biaya hidup seorang fotografer kamera film dihitung per bulan, ternyata ia hanya perlu berkorban seperti ini:
Artinya kalaupun karir anda panjang, hingga 15 tahun, hanya butuh pengorbanan tidak jauh dari angka 190 ribu per bulan. Cuma seharga 3 kali makan di Pepperlunch. Untuk fotografer senior tidak terlalu mahal, kan? :P~

2. Kalau Cuma Hobiis, Bagaimana?

Andalah yang menderita beban terberat pemakaian kamera Digital SLR! Jika diasumsikan hanya memotret 300 foto per tahun (cukup rajin untuk ukuran hobiis, 30 foto per bulan), inilah yang akan anda terima:
Apa artinya? Ternyata kamera digital akan membebani penghasilan resmi anda lebih banyak sekitar 2,5 juta dibanding kamera film jika anda kurang telaten (1 tahun sudah bosan memotret). Selisih beban ini menjadi “hanya” sekitar 3,9 juta jika anda lebih tekun, sabar hingga 5 tahun.

Tunggu dulu, itu kan tidak adil. Bagaimana perhitungan per bulannya?
Ternyata per bulan kamera digital akan membebani 65 ribu lebih banyak. Selisih beban ini baru akan terasa ringan setelah lebih dari 10 tahun (30 ribuan). Paling berat jika hanya 1 tahun pakai (200 ribu!). Iseng-iseng saya coba, bagaimana kalau ditekuni sampai mati? Ternyata setelah 100 tahun pun masih ada selisih beban, walau cuma 300 rupiah per bulan. Weleh…

3. Murah? Pikir-pikir lagi deh…

Banyak pemula fotografi yang berpikir akan sangat enak kalau gambar bisa dihapus kapanpun diinginkan. Tapi nyatanya tombol erase di kamera punya pengaruh sangat buruk. Bagaimanapun ia menumpulkan kesensitivan kita dalam menangkap momen. Selain itu progress dalam belajar juga jadi tidak kelihatan.

Zaman sekarang pun sudah banyak software pengubah metadata, akibatnya kepemilikan gambar hasil kamera digital sering diragukan. Hal ini bertolak belakang dengan kamera film yang punya bukti fisik. Selagi anda menyimpan dengan baik, bisa jadi bukti di pengadilan.

Foto dengan film juga sudah diakui memiliki kualitas warna yang lebih handal. Selain itu ukuran “sensor”nya jika dibandingkan dengan kamera digital mahal sekalipun akan tetap lebih besar, sehingga kemungkinan perbesarannya lebih baik. Foto dari film hitam putih pun jauh lebih dihargai dibanding foto berwarna yang dihitamputihkan dengan software editing.

Kelebihan kamera digital hanya terasa kalau anda benar-benar gila motret (1000 foto per tahun, anyone?). Atau untuk dipamerkan ke klien kalau sedang briefing (zaman sekarang kamera film sudah kaya barang loakan). Atau kalau anda memiliki profesi yang benar-benar membutuhkan gambar instan, mahasiswa DKV yang dikejar-kejar tugas seperti saya, misalnya. 😀

Pikirkan lebih baik, perbandingan di atas baru diukur dengan kamera pemula. Kesenjangannya akan lebih gawat lagi jika membandingkan kamera-kamera profesional.

Jadi pilihlah, gaya atau kualitas?

Iklan

6 Responses to “Benarkah Kamera Digital Murah?”


  1. 1 gunz 5 Maret, 2008 pukul 4:27 am

    Maaf telat banget komennya. Saya pemula di bidang fotografi (sekitar Januari 2008 atau dua bulan dari sekarang. Counter di kamera digital saya sudah menunjuk angka 8.400-an. Saya tidak pandai menghitung2 dari sisi bisnis dan nominal. Tetapi ada yang harus dibayar dengan nominal dan materi: Ilmu dan waktu.
    Misalnya waktu luang saya untuk ke toko kamera dan membeli film dan memrosesnya setelah selesai, melihat hasilnya setelah beberapa hari dsb adalah sesuatu yang harus dibayar dan bukan sekedar nominal. Sensitivitas saya dalam mengambil gambar pun dapat lebih terlatih dengan “quick take and quick review” pada kamera digital. Saya bisa mengambil 10 atau lebih gambar dalam satu moment dan tempat tanpa khawatir film habis, dengan seting parameter kamera yang berbeda2 dan bisa menyimpulkan bagaimana seting parameter yang paling optimal dengan melihat data exif. Dalam dua bulan, Saya bisa dapat lebih banyak ilmu, waktu dan kesenangan:)

    Kualitas…mmm saya belum pernah memakai kamera analog (pro). Tetapi saya percaya kualitas analog lebih berharga dan lebih berkualitas daripada digital (dalam banyak hal, bukan cuma kamera).

    Salam DKV…:)

  2. 2 hariadhi 5 Maret, 2008 pukul 10:52 pm

    Hm… ya boleh saja punya pendapat begitu. Lebih tepatnya harus berani coba dua-duanya kali, ya 😉 (serius, berharga juga kok mempelajari fotografi film. Banyak hal di fotografi film yang ga bisa dipelajari di digital, vice versa).

    Soal waktu dan tenaga, memang ada sisi lain untuk yang profesinya memang bersentuhan dengan fotografi cepat kaya untuk keperluan desain dan jurnalis. Kalau asumsi di artikel ini ya fotografer art beneran atau hobi.

    Ilmu juga bukan hanya masalah istilah teknis kan, Mas? Ilmu fotografi juga termasuk mengasah insting kita mencari komposisi yang pas, arah cahaya, pengaturan warna, dsb.

    Salam DKV juga 😉

  3. 3 mufti 15 Maret, 2008 pukul 6:16 pm

    Mas mo tanya, kalo saya punya budget 2 jutaan bisa nggak beli kamera slr film? Selama ini pake kamera digital poket serba otomatis, susah diatur. Trims.

  4. 4 Hariadhi 16 Maret, 2008 pukul 2:04 pm

    300 ribu juga ada, bekas tapi yah.. Kalau mau bagusan nikon FM bekas skira-kira 1.2 juta Lensa fix 50 mm. Sisa 800 ribu bisa buat beli film sepuasnya. Kemarin gw juga liat temen beli Canon Rebel 900 ribu.

    Kalau mau yang baru kayanya FM10 udah bisa 2.5 juta tuh. Tapi jelas susah nyarinya. Baru maksudnya ga pernah dipakai orang lain yah. Mungkin aja sebenarnya stok ga laku.

  5. 5 Kharisma 21 Mei, 2009 pukul 10:57 pm

    seandainya variabel “waktu” bisa bisa d tukar dengan uang, apa SLR film masi bisa dikatakan murah??

    karna dengan menggunakan kamera digital, saya bisa mempelajari teknik penggabungan aperture, shutter speed dan ISO dengan lebih cepat…

    CMIIW

  6. 6 hariadhi 21 Mei, 2009 pukul 11:33 pm

    Waktu tidak sama dengan kualitas. 🙂

    Ini spekulasi saja, orang yang terbiasa dengan kamera film serba manual akan mengerti lebih dalam mengenai aperture, shutter speed dan ISO.

    Kenapa? Karena mereka belajar dari foto yang salah, bukan dari foto yang benar. Mengerti kan maksudnya? 😉


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




Bumi Magenta!

Arsip

Bebas bertanggung jawab

Tulisan di blog ini ada di bawah lisensi Creative Commons with attribution 2.5. Syarat untuk menyalin blog ini adalah menyertakan url blog ini sebagai sumber.
September 2007
S S R K J S M
« Agu   Okt »
 12
3456789
10111213141516
17181920212223
24252627282930

%d blogger menyukai ini: