Pornografi versus Nudity


Saya tidak mau munafik. Kalau di warnet tangan ini rasanya usil membuka-buka folder orang. Biasanya banyak file “unik”, ada foto-foto diri narsis, surat cinta, history menjelajah internet, rekaman chatting, hingga gambar syur. Lepas dari etis atau tidak, hal ini bisa menunjukkan bahwa kepribadian tidak lagi ditunjukkan siapa teman kita, tapi file-file unik yang kita simpan. Saya sering lho melihat cewe imut berwajah innocent tapi history internetnya file “begituan”.

Ceritanya beberapa waktu lalu saya menemukan archive file yang isinya gambar-gambar syur. Ada yang topless, celana-less, sampai seluruhnya-less.
Saya ga akan cerita bagian erotisnya, tapi ada satu pikiran yang mengganjal. Aneh, tiba-tiba rasanya file itu bukannya membuat bergairah, adanya malah rasa mual.

Selama ini saya lelaki biasa yang disentuh cewe juga udah pasti kaya banteng ngamuk. Mulai frigidkah saya? Atau jangan-jangan mulai beralih orientasi seksual?

Ah.. tiba-tiba pikiran saya kembali ke diskusi lima tahun lalu dengan seorang teman. Dia bertanya “Apa bedanya porno dengan erotis?”. Jawabnya lagi “Porno itu bicara soal gairah, sementara erotis itu bicara keindahan.” Waktu itu dia bicara masalah game-game hentai (kategori X) versus game Ecchi (semi X). Toh bagi saya dua-duanya masalah telanjang dan bikin berdiri.

Nyatanya waktu masuk fakultas seni rupa ada pelajaran anatomi. Dua semester penuh kita berkutat dengan tubuh-tubuh bugil, disuruh mengamati tubuh wanita. Sontak sekelas riuh banget. Tapi saya bingung sendiri, kok anu saya malah loyo. Lalu dari sekian banyak lukisan-lukisan nude mulai zaman Michaelangelo dengan pria telanjangnya sampai Paul Cezanne dengan koleksi pemandiannya, jarang sekali yang membuat saya panas dingin.

Setelah sekian lama mendalami seni dan sejarahya, akhirnya saya mengerti jawaban dari pertanyaan di atas. Pada dasarnya ada perbedaan antara sebuah karya seni dan pornografi. Dan perbedaan itu terjadi dimulai dari niat penciptanya, dan kemudian mempengaruhi reaksi orang yang melihat.

Pencipta karya seni biasanya memiliki alasan mendalam kenapa ia harus menelanjangi subjek lukisannya. Misalnya Michelangelo menelanjangi tubuh-tubuh dalam episode kiamatnya di dalam Sistine Chapel. Baginya ketelanjangan adalah bentuk sejati dari manusia. Kita terlahir telanjang, dan begitu pulalah saat kembali menghadap Sang Penguasa.

Manet berpikiran lain lagi. Baginya Olympia adalah bentuk pembebasan keindahan dari bentuk. Saat ia membuat karya wanita telanjang dengan maksud agar masyarakat menyadari bahwa keindahan akan tetap ada di dalam lukisan walaupun bentuknya dianggap buruk (banyak yang menentang karya-karya vulgar di Perancis pada 1800an).

Berbeda lagi dengan Goustave Courbet. Baginya keindahan sejati adalah jika suatu benda dibuat apa adanya terlihat oleh mata, tanpa harus diolah dengan pengandaian atau diperindah dengan stilasi macam-macam. Karena itu ia dengan berani mengekspos kemaluan wanita dalam lukisannya, L’Origine du monde. Vagina ya vagina, titik.

Mereka semua berkarya dari pemikiran serius, bukan hanya dengan membayangkan wilayah selangkangan. Karena itu banyak orang-orang dari kalangan seni kehilangan hasrat akan gambar erotis dan porno, mungkin ini yang sekarang terjadi dengan saya.

Hal ini bertolak belakang dengan pembuat karya-karya porno. Pada dasarnya karya porno dibuat untuk memenuhi hasrat calon pembelinya. Karena itu jangan heran kalau pembuatnya juga harus sejalan dengan pemikiran konsumen, alias berotak mesum pula. Sekeras apapun seorang pakar pornografi membuat karya dengan teknik yang rumit dan peralatan wah, ia akan tetap menghasilkan karya mesum, bukan seni.

Kenapa? Karena ia sudah terlanjur berpijak kepada pemikiran mengeksploitasi keindahan tubuh manusia untuk memuaskan nafsu, pemikiran sudah dinafikan.

Karena itu bodoh kalau kita merasa perlu melarang seniman memamerkan karya “panas”nya di galeri seni. Bagaimanapun pengunjunglah yang seharusnya tahu bahwa di dalam seni, ketelanjangan tidak pernah dimaksudkan untuk membangkitkan gairah seks. Ia hadir untuk merangsang kita berpikir.

Kalau anda membawa anak-anak ke dalam pameran, jangan pernah biarkan ia berlarian sendiri di tengah lukisan tubuh-tubuh wanita. Kalau anda tidak bisa memberi penjelasan tentang ketelanjangan di dalam seni, lebih baik tinggalkan saja dia di rumah.

Ah, andai ada anggota FPI yang membaca tulisan ini…

Sumber
1. Gambar-gambar pornografi di atas memiliki sumber forum Kaskus. Mungkin anda penasaran ingin muntah seperti saya? Memuat ulang karya dengan resolusi rendah untuk keperluan non komersial bisa dikategorikan penggunaan fair-use.2. Lukisan Monet, Michaelangelo, dan Courbet di atas saya temukan dari Wikimedia Commons. Silakan buka file asliya untuk kualitas lebih baik. Karya tersebut ada di bawah kepemilikan publik karena penciptanya sudah lebih dari 70 tahun meninggal.

Iklan

0 Responses to “Pornografi versus Nudity”



  1. Tinggalkan sebuah Komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




Bumi Magenta!

Arsip

Bebas bertanggung jawab

Tulisan di blog ini ada di bawah lisensi Creative Commons with attribution 2.5. Syarat untuk menyalin blog ini adalah menyertakan url blog ini sebagai sumber.
September 2007
S S R K J S M
« Agu   Okt »
 12
3456789
10111213141516
17181920212223
24252627282930

%d blogger menyukai ini: