Saat Pikiran Sudah Dininabobokkan Teknologi


Nikon D40 mungkin kamera paling ramai di kelasnya. Tidak saja karena laris manis bak kacang goreng dengan harga terjangkau, tapi juga debat di kalangan hobiis fotografer apakah kamera ini layak beli atau tidak.

Di salah satu forum fotografi cukup terkenal, kamera ini bahkan dibandingkan dengan Canon 400D. Lepas dari setara atau tidaknya, perdebatan ini mengungkap banyak sisi kelebihan maupun kekurangan D40. Mulai dari keringkasan, layar LCD yang lebar, hingga masalah ketidaksesuaian jenis lensa dengan versi kamera Nikon lain.

Berikut kutipan dari pembicaraan soal D40 di internet :

D40x umurnya cuma 4 minggu saja di tangan saya.

Alasannya :

Harus pakai lensa AFS untuk bisa auto focus. Saya termasuk malas memakai Manual Focus ( kecuali untuk Macro saya lebih suka MF ).
Baterainya beda dengan D80 atau D70(s).

“Mending D80 sekalian deh. Lensa D40 ribet, ga bisa ditukerin dengan yang lain.”

ada lagi

Pilihan Lensa D40 juga gak seperti Nikon2 yang lain.

Ada yang salah dengan D40? Ternyata lensanya memiliki sistem motor berbeda dengan kamera Nikon kebanyakan. Mengusung AF-S, D40 memiliki motor sendiri di bagian lensanya. Beda dengan D80, misalnya, memiliki motor di bagian badan kamera. Hal ini tentu mengundang masalah saat terjadi pertukaran lensa, hal yang sering dilakukan hobiis fotografi, *ehm, terutama oleh yang berduit banyak.

Nah.. berhubung kemarin pacar saya dapat oleh-oleh kamera D40, saya dapat kesempatan untuk membuktikan: AADD (Ada apa dengan D40)?

Mengagetkan karena ternyata kamera ini cukup bisa diandalkan. Meskipun awalnya saya menganggap remeh karena ukurannya yang mirip-mirip kamera prosumer, namun tidak ada yang salah dengan fasilitasnya. Memenuhi standar fotografi digital, ada pengaturan Aperture, Speed, ISO, bisa simpan format RAW (catatan: saya belum bisa membuka format NEFnya dengan Adobe Photoshop CS2, ada yang mau bantu?), spot metering , autofocus (meskipun hanya di tiga titik, tapi bolehlah…). Saya tidak terlalu menghiraukan kualitas gambar di tempat gelap, karena itu hanya masalah pembiasaan. Tapi secara garis besar kamera ini sudah layak disebut SLR. Tidak perlu khawatir dengan tulisan “Made in Thailand”nya, karena toh banyak kamera Nikon lain yang buatan Thailand tapi kualitasnya ga jauh beda.

Lalu saya jadi penasaran, apa benar lensanya tidak kompatibel dengan kamera Nikon lain? Dengan sedikit deg-degan karena takut rusak (maklum saya tidak sekaya mereka yang bisa tiap hari beli kamera kaya beli gorengan), saya mencopot Lensa bawaan F50, errr.. merknya Cosina yah?.

Ternyata jalan! Memang masalah utamanya tentu saja autofocus jadi tidak berfungsi. Tapi nyatanya tidak ada halangan untuk membuat gambar bagus dengan lensa ini asal mau repot sedikit memutar ring focus. Karena F50 kamera film, saya bisa mendapat focal length lebih besar, kisaran 40-80mm. Hal ini berarti bisa mendapat depth of field lebih sempit atau crop lebih kecil dibanding lensa bawaan D40 yang Cuma 18-55 mm.

Sedikit lebih nekat, saya mencopot Lensa FM10 yang sudah antik. Yang ini fully manual, karena sama sekali tidak mengenal pengaturan elektronik untuk aperturenya. Lagi-lagi ternyata kamera tetap bekerja normal. Sekarang D40 sudah menjelma jadi FM10 veri digital-analog, yay!

Hah? Digital-analog?

Yah.. maksudnya kebalikan dari FM10 aslinya yang memakai film, kini memakai sensor digital, namun tetap dengan pengaturan aperture dengan manual, bukan lewat sistem elektronis kamera. Beda dengan F50 yang tetap film, namun mengatur ISO, aperture, dan speednya dengan sistem elektronis.

Memang saat memakai lensa fully manual, lightmetering tidak berfungsi. Namun itu bukan hal besar. Toh ini dalam lingkup kamera digital. Tidak puas dengan exposure? Nikon sudah berbaik hati menyediakan tombol bergambar tong sampah. Atau lakukan bracketting kalau anda sayang menghapus.

Kesimpulannya?

Di titik ini saya merenung, sebenarnya apa yang salah dengan kamera ini? Apakah hanya karena aperture dan autofocusnya sering tidak kompatibel dengan saudaranya lalu harus dijudge bahwa D40 kamera gagal?

Bukankah pada dasarnya fotografer yang membeli kamera SLR memang harus menghadapi resiko kewajiban mengatur diafragma dan fokus? Lalu apa yang salah dengan kamera yang tidak bisa auto fokus? Kalau begitu jajaran Nikon FM1, FM2, hingga FM3A juga termasuk kamera gagal, dong? Fotografer zaman dulu yang berkutat mengatur ring focus juga termasuk fotografer gagal, dong?

Autofocus kan awalnya hanya fasilitas untuk membantu fotografer yang butuh memotret momen-momen cepat seperti dalam pentas olahraga, binatang, perang, atau pertunjukan seni. Anehnya fasilitas ini belakangan jadi kebutuhan semua orang. Memotret apapun harus autofocus. Yang lebih menggelikan mereka terlalu fanatik sampai kadang tidak sadar kalau fasilitas itu malah mengatur penekanan fokus kepada objek yang salah. Begitu terpaksa balik ke manual focusing, sudah keringat dingin menganggap dirinya ga bisa motret.

Jadilah kita dininabobokkan teknologi. Teknologi autofocus, maksudnya.

Padahal dalam banyak jenis pemotretan, fasilitas autofocus bisa menjadi “neraka”. Di buku panduan kamera Nikon ada anjuran untuk tidak memakai autofocus untuk daerah yang “ramai” ataupun berjeruji. Saya sendiri menghindari memakai autofocus untuk memotret benda-benda dari dekat, dalam suasana agak gelap, panning, atau bidang yang terlalu flat.

Buruk Skill Kamera Dibelah

Sampailah saya kepada pemikiran, sepertinya mereka yang terlalu mempermasalahkan autofocus D40 hanya fotografer yang takut ketidakberskillan mereka ketahuan. Mengatur fokus lensa dan aperturenya hanyalah hal mudah yang mesti dipelajari dalam fotografi pemula.

Keterbatasan memakai autofocus ini seharusnya malah jadi pemaksaan buat kita untuk belajar kembali trik-trik dasar fotografi dan mengasah kepekaan terhadap ketajaman gambar dan pengaturan depth of field. Bukan hal berat kalau kita bertitik tolak kepada pemikiran bahwa fotografi itu seni, bukan ajang pamer equipment.

Apakah D40 worth it?
Kembalikan ke diri sendiri: Apakah anda serius ingin mempelajari fotografi? Kalau sekedar untuk hobi jepret-jepret lebih baik kembali saja ke kamera prosumer. Kalau ga mau lebih susah lagi, banyak kamera poket film di bawah harga 200 ribu. Banyak kamera prosumer memiliki fasilitas autofocus yang katanya lebih cangguih dari D40.

Kalau untuk manual focusing saja sudah keberatan, anda akan lebih kesulitan saat membuat karya-karya fotografi dengan tema khusus. Belum lagi menghadapi kamera middle atau large format, misalnya.

Jadi untuk sesama newbie fotografi, sebelum membeli D40 mari teriakkan: Fuck Autofocus!

Silakan klik link ke fotografer.net dan masuk ke forumnya. Di sana banyak penjelasan tentang D40 atau D40x

<a href=http://www.kamera-digital.com/forum/viewtopic.php?TopicID=14906&page=0
>Topik di kamera-digital.com ini lumayan menggambarkan keprihatinan bergantungnya fotografer-fotografer sekarang terhadap fasilitas autofocus

Iklan

10 Responses to “Saat Pikiran Sudah Dininabobokkan Teknologi”


  1. 1 Fa 9 September, 2007 pukul 3:17 pm

    wah, D40, my wishlist tuh, hehe.. makasih ulasannya yah, jadi makin mantep buat ngimpiin tuh kamera. btw, soal foto gerhana di blog saya, saya jepret pake S3IS, ntar klo udah dicoba pake D40, saya dikabari yah, thanks b4 🙂

  2. 2 Hariadhi 19 Oktober, 2007 pukul 2:52 pm

    bagus-bagus.. mimpi bikin orang jadi maju, hehehehhe. Tapi saya masih penasaran mau nyoba nularin virus kamera film ke mba fa lho. hehehehe

  3. 3 gurlinterrupted 11 Maret, 2008 pukul 9:16 pm

    posting jadul yang berguna buat gw yang gatau apa2 ini. jadi kesimpulannya kamera ini oke, tapi kita harus lebih banyak bekerja dan berusaha (selain berdoa tentunya) ya? karena harus setting manual gitu kan? duh mo mulai blajar fotografi aja modalnya mesti gila2an ya.. lo dulu awalnya pake kamera apa har?

  4. 4 hariadhi 11 Maret, 2008 pukul 11:15 pm

    Belajar fotografi mesti duit gila-gilaan? Hem… bisa ya bisa ga. Kalau awal-awal yah sebenarnya ga perlu sih (cuma orang sering salah kaprah, baru bisa hapal teori udah muluk-muluk pengen kamera profesional yang sampe puluhan juta, kan sayang). 600 ribu juga udah bisa beli kamera SLR bekas kok.

    Sebenarnya perlu barang mahal itu kalau bener-bener mahir. Mahir maksudnya benar-benar skilled. Tapi kalau udah begitu juga pasti udah bisa nghasilin duit sendiri dari motret.

    Kamera gw pertama? Olympus Pocket yang pake film. hehehehe. Kalau yang serius FM10, sampe sekarang ga ganti-ganti. Kadang dapat pinjeman F50 atau D40. D100 ama D70 pinjam dari kampus.

    Kalau serius mau belajar ya harus berani pake manual. Tapi kalau sekedar gaya-gayaan juga boleh aja sih pake fitur otomatisnya D40. Walaupun sebenarnya maksud fitur otomatis bukan buat itu, si 😉

  5. 5 stenly 8 Mei, 2008 pukul 10:56 am

    pembahasannya sangat menarik sekali karna emang bener zaman sekarang seni dari penggunaan kamera dan pengambilan gambar fotografi itu udah mulai surut.. apalagi dengan adanya software2 editting foto yang bisa memaksimalkan hasil foto, namun sebenarnya hal itu bukan murni dari skill sang photographer namun dia merupakan sang photosopher…
    haha…haha….
    I agre Fuck Autofocus

  6. 6 Andhika 17 Agustus, 2008 pukul 5:30 pm

    hmmm gw salut ama hari..
    jaman sekarang yang seharusnya kita yang memanfaatkan teknologi justru malah kebalik orang-orang yang semakin diperbodoh oleh teknologi dengan alih-alih berkata lebih efisien..
    jadi gw sepakat sangat sepakat dengan hari

    jadi mari kita teriak Fuck Autofocus…

  7. 7 Jebles 23 Agustus, 2008 pukul 12:07 am

    Wah makacih bgt ulasannya.Q pemakai FM10 dr tahun 97-skr.Cman bwt acr klrg aja n salurin hobby.Ternyt msh bny yg perhatian ma Kamera Analog.Q jg pgn lbh mendalami trik2 pengambilan gambar yg bagus dgn kamera analog.Mgkn tmn2 yg lbh tau bs kasih saran.Thanks bgt ulasannya!!!!

  8. 8 mulyadi g 7 Oktober, 2008 pukul 7:59 am

    Thanx buat ulasannya mas Har, jadi makin mantep nih buat ngegaet D40

  9. 9 Artiyanto D. Nugroho 23 Februari, 2009 pukul 3:27 pm

    Wah…. sebelum pake D40 ane pake FM1 juga omm… kamera jadul… jadi ketika pake yang DSLR, pertama ya d0 itu, kayaknya AF ato AF sama aja, jd pas gunainnya ga masalah ommm. saran bagi sesama newbie, ga salah pake yang d40, bisa explore melebihi yang kita bayangkan lho…. baru kalo dah mahir dan terdesak dengan kebutuhan, ngumpulin duit dulu, beli yang lebih canggih, cek this out… (sebagai gambaran) manual abis! http://www.deviantart.com/print/2076689/?itemtypeids=

  10. 10 paigekepple 3 Juni, 2009 pukul 1:05 am

    There are dozens of digital SLR cameras on the market today; however, there are few clear or consistent guides to which ones are the best quality and most reliable. Well, Which Digital SLR Camera? has personally tested and evaluated these digital SLR cameras so to give you an easy and simple recommendation of which ones you should choose and which ones you should avoid.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




Bumi Magenta!

Arsip

Bebas bertanggung jawab

Tulisan di blog ini ada di bawah lisensi Creative Commons with attribution 2.5. Syarat untuk menyalin blog ini adalah menyertakan url blog ini sebagai sumber.
September 2007
S S R K J S M
« Agu   Okt »
 12
3456789
10111213141516
17181920212223
24252627282930

%d blogger menyukai ini: