Sudahkah Anda Merdeka?

17 Agustusan ini saya melihat bendera di mana-mana. Jakarta semarak dengan berbagai acara dan festival, hingga saya sampai kepada suatu bisikan:

Merah itu berani, putih itu suci…

Itu mungkin pelajaran pertama kali yang kita terima soal menerjemahkan warna. Setelah itu kita mulai sadar, sedang menerima banyak sekali sensasi warna. Lihatlah baju yang anda pakai sekarang, dinding rumah, kulit anda, komputer anda, bahkan blog yang sekarang sedang anda baca. Dunia ini penuh warna!

Sayangnya orang Indonesia termasuk yang terbelenggu soal imajinasi, terutama warna.

Ingat lagu “Balonku Ada Lima?”. Pernahkah anda berpikir kenapa kita harus merasa kacau hanya karena balon hijau yang meletus? Kenapa tidak merah saja? Kenapa tidak kuning?

Saat menggambar pemandangan, kita selalu dicamkan bahwa gunung harus berwarna biru, sawah berwarna hijau, jalan harus diwarnai hitam. Lucu sekali dulu saya pernah diberi nilai 6 karena menggambar batu kali berwarna hijau. Padahal waktu liburan saya berkali-kali terpeleset gara-gara batu berlumut.

Apa anda tidak merasa penasaran dengan kenyataan bahwa tidak semua genteng berwarna coklat? Atau kenapa dulu kita lebih tertarik jajanan permen berwarna merah menyala dibanding bubur kacang hijau yang bergizi? Lalu kenapa batik rata-rata berwarna kusam? Kenapa rambut Barbie harus pirang? Kenapa bule bermata biru lebih menarik perhatian wanita Indonesia dibanding produk lokal bermata coklat? Kenapa emas harus dibuat kuning padahal kenyataannya bisa saja putih atau merah?

Memahami Warna
Jika cukup sensitif, kita akan sadar bahwa pembelengguan itu dimulai dengan standar warna yang ditulis oleh buku-buku sekolah. Kita sudah dicamkan terlalu dalam bahwa hitam itu warna kematian, hijau itu daun, biru itu langit, merah itu tidak sopan sehingga tidak boleh dipakai menulis. Ditambah lagi tayangan televisi yang tidak kreatif membuat kita selalu mengasosiasikan putih dengan pocong, merah itu cinta, pink itu abg.

Padahal satu warna bisa bermakna jutaan. Ia bisa berubah tafsiran tergantung dalam konteks apa ia dibicarakan. Katakanlah warna merah. Merah bisa diasosiasikan dengan benda tertentu, seperti darah. Karena itu ia bisa berarti pengorbanan atau cinta. Tapi jika ia muncul dalam bentuk suasana, merah bisa berarti rasa panas. Jika ia bicara ideologi, merah berikatan erat dengan sosialisme. Jika memakai warna merah menyala di bibir, jangan heran kalau anda dianggap wanita penggoda.

Oh ya.. jangan coba-coba pakai baju warna merah di antara kerumunan simpatisan PAN kalau tidak mau dipelototi.


Ragam warna pun bisa mempengaruhi makna. Jika anda menaruh cat vermillion berdekatan dengan carmine, akan sangat terasa perbedaan keduanya. Vermillion akan terasa lebih kalem, sementara carmine yang cerah akan terasa begitu menggebu.

Variasi makna ini diperkaya lagi dengan kombinasi warna. Jika anda mencoba menyandingkan biru dengan kuning, ia tidak akan terasa sendu lagi. Padukanlah hitam dengan pink. Ia akan kehilangan rasa horor. Tambahkan sedikit abu-abu di atas warna merah, ia kehilangan kepelacurannya.

Warna juga berkaitan erat dengan psikologi manusia. Jadi jangan heran kepada fakta bahwa apapun yang kita lihat pasti pertama kali diterjemahkan berdasarkan warna. Jangan bilang anda tidak ingat warna tombol start di Windows XP. Kita juga dengan mudah bisa menyebut warna pelangi. Sadar atau tidak, anda akan cenderung mendekati tempat-tempat berwarna suram saat depresi. Saat lampu merah mobil di depan menyala, kita akan dengan refleks menginjak rem.

Kesimpulannya?

Begitulah, warna adalah salah satu produk rupa yang sederhana namun harus ditangani dengan berhati-hati. Saya sampai sekarang masih terheran-heran dengan seniman di Peruri yang membuat uang 50.000 berwarna biru. Padahal entah berapa banyak tukang bakso yang rugi besar gara-gara salah membedakannya dengan recehan seribu. Tidak jauh berbeda 20.000 dengan limaratusan. Saya sendiri pernah salah membayar seratusribu kepada tukang bajaj. Sialnya buat mahasiswa! Padahal itu uang makan seminggu….

Juga bodoh sekali rasanya kalau sampai sekarang pemerintah daerah masih mempertahankan warna merah untuk kendaraan umum seperti metromini atau bajaj. Padahal warna merah memperkuat rasa terik matahari dan memberi rasa tertekan. Karena itu jangan heran kalau tingkah pengemudinya jadi ugal-ugalan dan semau gue.

Itu semua berawal dari warna.

Kemerdekaan Atas Warna

Mengenali warna membuat kita bisa hidup dengan cara berbeda dengan orang kebanyakan. Kembali kepada pernyataan life is colourful, hanya jiwa yang terjajah yang tidak bisa menikmatinya.

Mimpi adalah produk ilusi warna yang paling sensitif terhadap emosi kita. Jadi daripada sibuk ke dukun menerjemahkan arti mimpi, kenapa tidak mencoba mengingat warna apa yang muncul malam ini?

Bisa pula dengan banyak menonton film. Hollywood menyajikan banyak warna-warna memukau dalam filmnya. Tapi sesekali cobalah menonton film Perancis. Banyak adegan muncul dengan kekuatan warna.

Melamunlah begitu anda menemukan warna yang anda anggap menarik hari ini. Pikirkan, emosi macam apa yang anda alami sehingga warna itu begitu terasa dekat dengan anda? Siapa yang pertama kali anda ingat saat menyaksikan sebuah warna?

Seniman dan desainer juga orang-orang yang sepanjang hari bekerja dengan warna. Mereka adalah teman terbaik anda dalam berdiskusi mengenai warna. Karya seni selalu memperlihatkan variasi permainan warna, jadi jangan lupa memasukkan jadwal pameran ke agenda anda bulan ini.

Omong-omong, sekarang tentu anda sudah mengerti kalau ada pejabat “di atas sana” yang ngotot tabung BBG untuk rakyat miskin harus diwarnai kuning, kan?

Trivia
Tahukah anda kalau warna bisa pula berarti kasta di India? Istilah yang tidak jauh-jauh dari arti pembelengguan. Hmm…..

0 Responses to “Sudahkah Anda Merdeka?”



  1. Tinggalkan sebuah Komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




Bumi Magenta!

Arsip

Bebas bertanggung jawab

Tulisan di blog ini ada di bawah lisensi Creative Commons with attribution 2.5. Syarat untuk menyalin blog ini adalah menyertakan url blog ini sebagai sumber.
Agustus 2007
S S R K J S M
    Sep »
 12345
6789101112
13141516171819
20212223242526
2728293031  

%d blogger menyukai ini: