Kamera Poket vs SLR


Hari ini kayanya ingatan masa lalu saya sedang terbuka. Saya ingat saat SMU dulu ada pelajaran Bahasa Indonesia. Kami sekelas menganalisis artikel dari sebuah harian mengenai Fotografi. Di dalamnya si penulis sedang berusaha meyakinkan bahwa hasil kamera poket bisa sama dengan fotografer profesional. Maafkan kalau saya belum tahu apa-apa soal fotografi waktu itu. Tapi seorang teman saya yang hobiis fotografi (dan seingat saya dia suka bawa kamera) ditanyai, apa benar artikel ini: kamera biasa bisa sebagus kamera fotografer?

Jawabannya simpel dan diplomatis: Ada benarnya, tapi tetap ada hal yang cuma bisa pakai SLR.

Saya termangu-mangu dan kagum dengan jawaban seperti itu. Ehem, termangu-mangu maksudnya sih ga ngerti.

Tapi itu tahun 2001. Omong-omong sekarang setelah melewati 3 mata kuliah fotografi yang beratnya minta ampun, saya baru ngeh bedanya kamera poket dengan SLR. Di mana itu?

Wah jawaban saya ga bisa seringkas temen saya tadi. Untuk bisa ngerti bedanya, kita harus tahu bedakan dulu kamera film dengan kamera digital.

Untuk kamera film, kamera SLR dan poket berbeda masalah sudut tangkapnya. Sebab kamera film tidak bisa menyajikan layar LCD, jadi untuk membidik harus digunakan celah bidik yang ada di bagian atas kamera. Intinya kamera SLR bisa menyajikan sudut pengambilan yang sama persis dengan saat dicetak. Kamera poket tidak memiliki desain yang mendukung hal ini. Sehebat apapun komposisi foto anda, pasti sudut pengambilannya akan meleset beberapa milimeter (bahkan beberapa centimeter jika objeknya terlalu dekat). Tetapi hal bagus dari kamera film adalah warna, kepadatan gambar, dan kepekaan pada cahaya hanya ditentukan oleh pita film yang anda gunakan. Jadi secara teknis anda bisa saja menghasilkan foto bagus kalau memasukkan film Proplus ke dalam kamera poket.

Saya bahkan ingat pernah menemukan kamera poket dengan aturan diafragma, speed, dan ASA film. Jangan tanya, saya dulu anak yang usil. Kamera itu sudah saya banting ke batu sampai rusak. Jadi untuk tahun 2000an, saat kamera poket digital belum populer, artikel itu ada benarnya.

Nah sekarang untuk kamera digital, hal ini baru bisa dibantah. Karena perbedaan desain kamera poket dengan kamera SLR, maka kualitasnya akan jauh berbeda. Kamera poket digital didesain untuk menjadi ramping. Karena itu produsen kamera mengecilkan ukuran sensor dan mau tidak mau juga memperkecil lensanya. Akibatnya sensor untuk menangkap cahaya juga menjadi sedikit. Ini mirip dengan memaksakan gambar ukuran besar ke dalam TV ukuran kecil. Walaupun kini banyak kamera poket dengan di atas 10 MP, tidak akan banyak bedanya.

Mau bukti? Potret dua benda yang sama dengan menggunakan kamera poket 10 Mega piksel dan kamera SLR digital 5 Megapiksel, lalu print menjadi ukuran A4. Anda akan melihat bedanya!

Tapi hal menyenangkan mengenai kamera digital poket adalah LCDnya yang akan membawa kita merasakan enaknya sudut pandang “seperti” SLR. Yang ditampilkan layar LCD adalah hasil sensor kamera, jadi akan tepat sama seperti yang akan disimpan.

Kesimpulannya? Kualitas gambar tidak akan terlalu ditentukan oleh jenis kameranya. Mirip pensil dan kuas. Seniman harus mengerti keduanya. Namun seniman yang telah mahir melukis dengan kuas tidak akan terlalu kesulitan dengan menggambar dengan pensil. Sementara orang awam yang baru mahir menggunakan pensil, harus mendalami cara mewarnai dengan kuas dulu.

Saya ingat teman saya Hetty, pengguna yang telah menghayati SLR (yang berarti telah mengenal baik karakteristik kamera), yang tidak malu-malu kembali menggunakan kamera poket. Semua kamera memiliki kelebihannya sendiri. Bagi saya pilihan kualitas teknis terbaik ada di SLR film, SLR digital, poket film, dan paling bontot poket digital.

Ngomong-ngomong anda pernah mencoba menangkap Habiebie yang tiba-tiba ngebut, dengan kamera SLR film?

Gambar di atas diunduh dari wikimedia commons. Versi aslinya dimuat oleh pengguna tsca dengan lisensi GFDL dan CC att 2.5

2 Responses to “Kamera Poket vs SLR”


  1. 1 Ricky Setiawan 30 Agustus, 2007 pukul 7:04 am

    Tergantung juga sih apa keperluannya. Kalo keperluannya untuk dicetak, emang lebih bagus SLR film karena hasil cetakan digital akan sangat dipengaruhi oleh printernya, dan (kecuali printer mahal yang didesain khusus untuk tujuan foto) cetakan printer tidak akan bisa sedetail foto hasil cucian film.

    Tapi kalo mau foto dalam bentuk digital, tentu bagusan kamera digital. karena kalau kita make kamera film, detail foto hasil cetakan film itu “dirusak” oleh kualitas scannernya (scanner rumahan pasti jelek).

    Untuk belajar saya lebih prefer ke bentuk digital karena toh namanya juga belajar, hasil cetakan fotonya tidak terlalu penting.

    Belajar disini maksudnya bukan pas ngambil matakuliah fotografi lohh…maksudnya kalo belajar otodidak.

    Salam.^^

  2. 2 Hariadhi 19 Oktober, 2007 pukul 2:48 pm

    kalau menurut saya sih, sayang juga kalau belajar ga pakai kualitas yang terbaik. Siapa tahu di masa depan sudah jadi fotografer terkenal sampai gambar-gambar kita waktu belajar juga diburu orang.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




Bumi Magenta!

Arsip

Bebas bertanggung jawab

Tulisan di blog ini ada di bawah lisensi Creative Commons with attribution 2.5. Syarat untuk menyalin blog ini adalah menyertakan url blog ini sebagai sumber.
Agustus 2007
S S R K J S M
    Sep »
 12345
6789101112
13141516171819
20212223242526
2728293031  

%d blogger menyukai ini: