Hakkopi, Apa Pulanya Itu!?


Saya ingat sekitar dua bulan lalu saya pernah diadili di situs fotografi yang katanya sih ternama. Masalahnya cuma karena saya membuka diskusi di Wikipedia tentang gambar yang menurut saya potensial menjadi pelanggaran hak cipta. Kasusnya adalah seorang user yang mengaku berniat membantu temannya untuk memasukkan gambar potretannya ke wikipedia.

Saya memberitahukan yang memuat gambar itu supaya memberi klarifikasi tertulis dari “sang teman”. Masalahnya di wikipedia setiap harinya kami harus menghadapi ratusan user yang menganggap copyright hal yang remeh. Banyak scan komik, brosur, capture film, bahkan gambar-gambar hasil download di google yang dimuat dengan lisensi sembarangan. Mereka pikir dengan membeli komik berarti memiliki hak pula untuk menguploadnya kembali ke internet. Begitu pula foto, sudah sering terjadi orang yang mengaku-aku mendapat izin untuk mengupload dari orang lain.

Begitulah, daripada terjadi hal yang tidak diinginkan, saya meminta pengurus menghapus gambar-gambar seperti itu. Akibatnya si pemuat gambar merasa tersinggung. Jadilah minggu itu saya selebritis di forumnya, bahkan tanpa saya bisa membela diri. Sampai ada yang menyebut saya kesetrum, hehehe.

Tapi sudahlah, saya sudah lama berusaha melupakan hal itu. Inti dari tulisan ini bagaimana kita bisa memahami hak cipta lebih jauh.

Apa itu hak cipta? Wikipedia Bahasa Indonesia menjelaskan bahwa hak cipta adalah hak eksklusif yang diberikan oleh pemerintah kepada seseorang untuk mengatur penggunaan ide, karya, atau gagasan tertentu. Karya ini hanya boleh dipublikasi (dalam hal ini termasuk mengkopi, menscan, hingga perbuatan memuat ulang ke internet) oleh pemilik hak cipta. Hak ini bisa dipindahtangankan ke orang lain (misalnya dilakukan musisi dengan kontrak pembuatan album kepada pihak rekaman).

Apakah harus mendaftar untuk mendapat hak cipta? Beberapa negara mengharuskan, tetapi berdasarkan Konverensi Bern, selagi ide sudah tertuang dalam media (rekaman, tulisan, lukisan) maka hak ciptanya sudah ada. Tetapi mereka yang mendaftarkannya akan mendapat bukti yang lebih baik di mata hukum.

Karena itu bukan hal yang sah, walaupun tidak ada yang melarang, untuk menerbitkan “karya seorang teman” tanpa pernah menunjukkan izin tertulis. Suka atau tidak, izin ini akan menjadi bukti penting bila terjadi perselisihan hukum. Bahkan kalau anda mengatakan “Sumpah mati! teman saya sudah kasih izin!” tidak akan banyak artinya. Saya jadi ingat tulisan NH Dini dalam “Jepun Negerinya Hiroko” yang merasa kesal salah satu temannya di Sumatera yang seenaknya mengirim karyanya ke penerbit hanya karena alasan “Kan saya ingin bantu kamu!”. Saat ternyata buku itu terlanjurkan diterbitkan oleh penerbit lain, apakah “si teman” peduli?

Hak cipta menghalangi orang untuk meniru, menjiplak, atau menerbitkan tanpa izin. Tapi anda tidak dihalangi untuk membuat cd backup, kebetulan membuat lukisan sama dengan orang lain, atau merasa terinspirasi oleh lukisan Affandi.

Jadi seharusnya kita bilang “goodbye mangascan, reproduksi lukisan, baju-baju dora the explorer di ramayana, cd harga 25ribuan di glodok, dan sebagainya”.

Kadang diperbolehkan pula untuk menscan suatu karya untuk kepentingan riset dan studi. Syaratnya gambar itu diambil dengan resolusi “secukupnya” untuk dilihat. Bingung? Setel saja scanner anda di resolusi 75 dpi, lalu potong gambar itu dalam ukuran kecil.

Banyak kalangan berpaham sosialisme, religius, atau pemikir utopis yang menganggap dunia terasa sempit karena Copyright atau Copyright hanya produk yang memperkaya orang Kafir dan Para Kapitalis!… Mungkin, tapi itu cuma relevan kalau dibicarakan 20 tahun yang lalu. Bergembiralah, abad 21 ini sudah ada alternatif lisensi copyright. Bentuknya bisa Creative Commons, Public Domain, atau GNU Free Document License. Jangan bingung dengan istilahnya, karya-karya dengan lisensi seperti ini mengizinkan orang lain untuk memperbanyak dan memodifikasi. Syaratnya cuma satu (dan ini harus anda camkan di kepala!): Anda harus mencantumkan siapa pembuat asli karya itu dan dari mana anda dapatkan. Menolak? Kalau begitu anda tidak lebih sekadar pembajak selevel Glodok, jangan ngaku sosialis sejati!

Berlisensi bebas bukan berarti kualitasnya buruk. Lihatlah galeri gambar-gambar pilihan di Wikimedia Commons. Atau coba kunjungi flickr, hasilnya banyak yang setara fotografer profesional.

Apakah mereka yang membuat karya tidak rugi? Tidak, karena mereka melakukan hal itu untuk dua alasan, untuk menciptakan dunia yang lebih baik tanpa belenggu copyright, atau untuk mempromosikan karya-karya mereka untuk menarik agen yang berani membayar mahal untuk karya-karya khusus.

Hare gini masih ngebelain Kaos Dora The Explorer bajakan untuk kemashlahatan ekonomi umat?!?

(Ga akan ada yang menuntut saya untuk gambar indah di atas, buatan Beckmannjan, yang melisensikan karyanya dengan GFDL di Wikimedia Commons).

Iklan

0 Responses to “Hakkopi, Apa Pulanya Itu!?”



  1. Tinggalkan sebuah Komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




Bumi Magenta!

Arsip

Bebas bertanggung jawab

Tulisan di blog ini ada di bawah lisensi Creative Commons with attribution 2.5. Syarat untuk menyalin blog ini adalah menyertakan url blog ini sebagai sumber.
Agustus 2007
S S R K J S M
    Sep »
 12345
6789101112
13141516171819
20212223242526
2728293031  

%d blogger menyukai ini: