de Stijl, Duh!


Saya ingat beberapa waktu lalu koran Seputar Indonesia yang “katanya” membahas seluruh aspek hidup masyarakat. Dan saya kaget dan terkagum-kagum saat melihat ada pameran fashion dengan tajuk de Stijl. Setahu saya gaya dari Belanda ini (de Stijl bisa diartikan The Style dalam Bahasa Inggris, alias gaya dalam Bahasa Indonesia) tidak sempat masuk ke Indonesia. Even though Belanda menjajah Indonesia, namun tampaknya gaya ini kurang begitu populer untuk bisa berkembang ke luar, bisa pula karena Belanda sedikit terkucil karena menolak terlibat Perang Dunia I. Kesimpulannya, jarang orang bisa tahu de Stijl!

Jadilah rasa kagum saya bertambah lagi saat gaya de Stijl bisa dibahas dalam sebuah brosur promosi perguruan tinggi yang katanya, ehem ehem, mahal dan bergensi di Jakarta. Saya tanya ke pacar yang dulu kuliah di mode, spesialisasinya ke Fashion. Di situ tertulis kalau mahasiswanya tidak cuma merancang baju tapi membuat karya berkonsep dan dekat dengan karya seni murni.

Okelah.. saya ga terpilih jadi pria berbusana terbaik ala Roy Suryo. Kemungkinan besar anda kalau ketemu saya pasti dengan kemeja luntur dan sendal jepit. Bahkan duit di kantong ga bisa untuk beli sekedar label palsunya CK. Tapi melihat kedua karya fashion itu saya cuma bisa senyum. Miris atau ngetawain, saya ga tau.

BTW, apa itu deStijl? Bukan kerupuk ikan. Bukan juga merk sambal. Anda boleh cek ke Wikipedia Bahasa Inggris. Saya juga buat sedikit terjemahannya di Bahasa Indonesia. Di sana ada pembahasan de Stijl. Atau sekali-kali cek ke perpustakaan cari buku “De Stijl, Vision of Utopia”. De Stijl adalah sebuah fenomena seni yang dimotori Theo van Doesburg dan Piet Mondrian ga berapa lama setelah perang dunia I. Intinya bagaimana sebuah karya seni lukis tidak lagi meniru bentuk-bentuk yang sudah ada di alam. Tapi melompat jauh dengan menyederhanakannya menjadi konsep ruang saja.

Jadi jangan heran kalau lukisan dengan gaya seperti ini kebanyakan berbentuk tumpukan kubus dan persegi panjang. Tapi jangan takut, ada juga beberapa yang memakai lingkaran atau pengaturannya rada miring seperti karya Vilmos Huszár.

Hal yang menarik dari pelukis de Stijl adalah kemampuan mereka untuk memanipulasi penglihatan anda jauh sebelum optical art ditemukan pada tahun 1960an. Scroll mouse anda ke atas, perhatikan lukisan Composition with Yellow, Blue, and Red karya Piet Mondrian yang saya upload. Lalu gerakkan sedikit mata anda. Bisa melihat kumpulan bintang yang berkelap-kelip di antara kumpulan garis hitam? Cuaanggih! Hal seperti ini bahkan baru bisa dibahas berapa tahun lalu oleh penulis buku grafis Tatsu Maki.


Atau untuk anda yang sedikit lebih sensitif, perhatikan kotak-kotak di lukisan ini lebih lama. Bisakah anda membayangkan susunan rumah dengan berbagai tingkatan dan tangga-tangganya. Ingat, lukisan itu hanya terdiri dari kotak-kotak dua dimensi!

Tapi cara desainer dan calon desainer yang saya ceritakan di atas benar-benar membuat hati saya berdecak “kagum”. Mereka bahkan hanya meniru (bahkan berani taruhan, itu hanya discan dan ditrace!) susunan kotaknya untuk dijadikan motif! Tidak ada sama sekali hal yang istimewa dengan bentuk bajunya, jangankan untuk mengolah konsep lukisannya menjadi hal yang baru. Untuk lebih meyakinkan bahwa itu gaya de Stijl, dikutip salah satu kalimat Piet Mondriaan yang kalau diterjemahkan bunyinya kira-kira “Anda bisa ikutan jadi de Stijl tanpa perlu menjadi kotak”.

DUH!

Makanya saya cuma bisa geleng-geleng kepala ngelihat desainer yang katanya “kondang” dan perguruan tinggi yang katanya bonafid bisa nampilin karya “mentah” seperti itu. Gimana bisa sebuah pemikiran brilian tentang ruang dan komposisi cuma dianggap dekorasi berwarna-warni? Apa mereka ga bisa riset lebih jauh tentang ilusi ruang di alam de Stijl? Atau bagaimana Piet Mondrian mengkomposisikan warna? Atau bagaimana merancang keharmonisan bentuk-bentuk geometris tanpa saling bertubrukan? Ga bisakah mereka menghargai pemikiran brilian dari 80an tahun yang lalu?

Ngerti gimana orang Indonesia sering “asal” dalam menerapkan sebuah karya seni atau desain? Kalau begini bagaimana kita bisa maju?

(gambar-gambar di atas didownload dari wikimedia commons)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




Bumi Magenta!

Arsip

Bebas bertanggung jawab

Tulisan di blog ini ada di bawah lisensi Creative Commons with attribution 2.5. Syarat untuk menyalin blog ini adalah menyertakan url blog ini sebagai sumber.
Agustus 2007
S S R K J S M
    Sep »
 12345
6789101112
13141516171819
20212223242526
2728293031  

%d blogger menyukai ini: