Hari ini di Sindo saya baca sekarang katanya sedang trend kelas super, suatu kelas berisi siswa yang dianggap memiliki inteligensia lebih dan menyenangi matematika dan sains. Untuk masuk kelas ini katanya pakai syarat IQ 150 lebih segala, wuih!
Senang? Entah mau bilang apa. Jelas ini bagus untuk anak-anak yang memang sudah maniak sains. Tapi yang bikin saya kecewa adalah kelas ini sepertinya lebih bicara ke masalah superior-superioran. Seolah dunia ini hanya bicara masalah sains dan matematika. Siapapun yang bisa menguasai sains pasti bisa menguasai dunia, masa depan terjamin, hidup kaya raya. Duh!
Jadi apakah anak dengan IQ tinggi tapi tak suka sains akan dianggap anak buangan? Tidak perlu diberi fasilitas?
Saya punya pengalaman buruk dengan sains, saat pemilihan jurusan saya sebenarnya tidak terlalu qualified untuk masuk IPA. Nilai Bahasa Inggris, seni, dan ekstrakurikuler komputer saya jauh lebih baik. Tapi terima kasih kepada orang-orang gila yang sudah menciptakan stigma bahwa kelas IPS adalah buangan, saya memaksakan diri masuk IPA dengan ekspektasi kuliah di jurusan Informatika atau setidaknya jurusan teknik lainnya. Saya bahkan lebih memilih tinggal kelas daripada harus masuk kelas buangan ini.
Seni rupa? Waduh jangan ngomong… Dari seminggu cuma 1 mata pelajaran, itupun harus berbagi dengan seni lainnya, macam seni musik!
Padahal seandainya sejak awal saya dikenalkan bahwa dunia sosial dan seni rupa (*ehm, memangnya ada SMA penjurusan seni rupa? Adanya cuma SMK! Halow… Diknas? Pak Mentri Pendidikan?) juga menjanjikan, tentu saya tidak akan ragu-ragu memilih. Tak perlu susah-susah membuang waktu tiga tahun hanya untuk menemukan dunia yang benar-benar cocok buat saya.
Dan kenyataannya dunia seni rupa bukanlah dunia pengangguran. Ternyata isu yang selama ini didengung-dengungkan bahwa seni rupa itu dunianya pengangguran, pemalas, tukang ngelamun, adalah 100% salah! Justru saya melihat kemungkinan booming dunia kreatif di Indonesia. Masalahnya adalah tenaga kerja ahli (beneran ahli dan terdidik, bukan abal-abal) sangat sangat sangat kurang, sehingga malah kebanyakan ngimpor. Kita lebih percaya kepada creative director dari luar negeri, sementara untuk pekerjaan “tukang” dibayar murah ke kita. Ya jelas lapangan kerjanya jadi menciut!
Sekarang coba kita hitung, berapa banyak pengangguran dari Jurusan Teknik Informatika setiap tahunnya? Berapa banyak yang akhirnya malah bekerja di luar latar belakang pendidikannya? Terus berapa banyak fotografer, desainer, ilustrator, sutradara, dan seniman yang hidup melarat?
Siapa yang sebenarnya lebih pantas dibuatkan kelas super?

Kayanya memang tak ada kelas super Har … gimana dengan progam akselerasi yah? ituloh kelas super yang mempercepat lompat lompat gitu …
SUper Ato Nggak Yang penTing, Tujuan utaMa Kita dapat Tercapai
yah benar juga, paradigma kelimuan itu terlalu didoktrinasi saat SMA atau menjelang SPMB sejenisnya lah..
nah perlu memang penetrasi saat SMA dikenalkan prospek kerja yang tidak melulu jurusan itu itu aja.
Tapi pada akhirnya ketika kita memilih jurusan di suatu perguruan tinggi, semua punya manfaat dan posisi malah bisa sama
Ass..oh,kls super,
klu menurut saya yg nama’a kls super tu mmng pantas bagi mereka,krn y mmng itu kls tuk org2 yg mempunyai IQ lebih diatas rata2..
Tp sebaiknya pemberian motivasi’a jgn sampe gitu2 x lha..
Maksud’a yg nama’a ajal,jodoh,rizki,dan baik buruk tu kan dah allah yg nentuin..
Banyak kok abang2 saya yg alumni Timur Tengah jurusan agama malah hidup’a bahagia dan bisa dibilang kaya raya tu…
Maaf y ,
Afwan…Jazakallah khair…
Ramadhan
(Mahasiswa Yaman)
Emang dari dulu kecerdasan Metematika dianggap paling Superior. Untung si Howard Gardner nemuin tuh kecerdasan-kecerdasan (multiple intelligences) yang lain. Jadi yang berasa ga unggul di kecerdasan matematika, kan bisa cari peluang dan bakat di kecerdasan yang lain.
Dan saya termasuk sebel sama yang ngeluarin stigma klo masuk SMK tu ga keren. Klo saya dah punya anak, ntar tak masukin SMK biar SKILL!
Salam,
Hahaha,
jadi anak kelas super gak terlalu enak juga kok.
bebannya berat banget.
memang jurusan seni rupa sebaiknya ada di SMA.
temenku anak kelas super, tapi dia gak terlalu suka sama MIPA tuh.
dia malah suka banget seni.
tapi bukan berarti kelas super gak bagus kan?
kenapa harus ada kelas super….????
halo kak tania!
kelas super lumayan enak juga si…
tapi gag enek2 amat lho..
Fisika n matematikanya gag sesempit pelajaran reguler…
by nak 6 tukang ribut
menurut gue semua sistem kyk kelas super, brilliant class, akselerasi atau bahkan kelas reguler sekalipun itu cuma bentuk kepedulian pemerintah maupun swasta aja kok dlm memajukan mutu pendidikan di Indonesia, yaa walaupun pada kenyataannya hal tersebut memicu kesenjangan sosial dlm lingkungan pendidikan semacam (kasta) dlm dunia pendidikan. tapi sah-sah aja kok selama itu adalah hal yang membangun demi terwujudnya sarana dan prasarana pendidikan di negara berkembang kayak Indonesia ini. Justru sbg pelajar yang baik kita harus jadiin hal tersebut sbg motivasi buat diri sendiri, supaya udah terbiasa bersaing walaupun dlm taraf lokal. hehehe
Kelas super itu adalah salah satu layanan pendidikan bagi anak yg memilki kecerdasan rata-rata IQ 150. Selain itu ada juga layanan pendidikan bagi anak yg IQ di bawah 80, selain itu juha masih ada layanan yg. lain.
Prinsipnya Pememerintah kalau bisa dpt melayani semua kibutuhan masyarakatnya.
Marilah kita dukung program yg sangat baik ini, janganlah kita langsung menjelekan sesuatu itu, kalau kita tidak suka.
Semoga anda sukses di manapun yg. anda sukai, thanks .
kelas super bukan buat maniak sains.. itu untuk anak2 berbakat..