Banyak blogger memberitakan kenaikan harga BBM di blognya. Sebenarnya saya tidak tahu apakah harus setuju atau menolak kenaikan ini, tapi ada beberapa sudut pandang dari saya:
1. Siapapun yang bisa membeli kemewahan kendaraan dengan harga 5 juta ke atas, bukannya menyisihkan uang itu untuk kebutuhan pokok (sandang, pangan, papan), tidak pantas menyebut dirinya bagian dari rakyat miskin.
2. Siapapun yang bisa ngeblog dengan tarif ribuan rupiah per jam dan durasi pemakaian lebih dari 2 jam per hari, ketimbang memusingkan harga mi instan, tidak pantas menyebut dirinya membuat tulisan yang mewakili rakyat miskin.
3. Siapapun yang lebih memilih berlibur ke Ancol atau Puncak ketimbang mengunjungi perumahan kumuh dalam 1 bulan terakhir, tidak pantas menyebut dirinya memprihatinkan kehidupan rakyat miskin.
4. Siapapun yang tidak merelakan lembar ratusan ribuannya untuk membantu anak tetangga yang tidak bisa sekolah, tidak pantas menghujat pemerintah lalai terhadap nasib rakyat miskin.
5. Siapapun yang menghabiskan waktunya berdebat kusir apakah kenaikan harga BBM mempengaruhi kehidupan rakyat kecil ketimbang menanyakan langsung kepada si miskin, tidak pantas mengaku dirinya pembela rakyat miskin.
Tersinggung? Masa bodoh. Saya capek melihat kemunafikan borjuis yang mengaku-aku keluhannya sebagai keluhan rakyat miskin. Perut buncit gara-gara minum alkohol kok mengaku defisiensi gizi?

Nah! Ini dia. Saya juga rada kesal melihat yang protes akan kenaikan BBM padahal tiap hari naik mobil mewah dengan bahan bakar subsidi.
Aku cuma bisa senyum membacanya.
apa bedanya dirimu dan isi cerita mu.
Hehehe.. kalau boleh saya tanya: memangnya isi post ini membawa-bawa penderitaan rakyat kecil untuk memperkuat argumentasi pribadi?
Mas Hendra sudah baca tulisan ini sampai mana?
Keren MazZ… Aq Setuju sama apa yang maz bilang… Gak perlu banyak basa basi, ketimbang kita mengaku”aku perduli terhadap aspirasi rakyat miskin di negeri kita yang kaya namun miskin hati… Btw ada artikel yang lain gak mas…?
Cheer’s…