Saya pikir semua blogger pasti pernah nemu komentator negatif yang akan terus mencela setiap detail tulisan kita. Yang ga aneh dikomentari seolah hal aneh, yang ga salah dicaci maki supaya kelihatan salah, yang becandaan dianggap serius. Entah punya dendam apa, atau memang mungkin sekedar menumpahkan kekesalan gara-gara tadi malam ga dapat jatah dari istri. Hik hik hik hik.
Saya pikir juga, banyak blogger punya jurus untuk menghadapi komentar-komentar miring seperti ini. Misalnya yang saya tahu Bu Jurig dan Pak Budi punya semboyan “Blog Aing Kumaha Aing”, suatu semboyan yang sebenarnya lebih kepada usaha menguatkan kepercayaan diri daripada menyerang orang yang menjelek-jelekkan, apalagi sekedar memperlihatkan kesombongan.
Saya pikir-pikir lagi.. ada baiknya saya juga bikin semboyan sendiri menghadapi orang-orang aneh semacam ini. Maka terjadilah sebuah semboyan, bunyinya adalah SSS
Suka Suka Saya!
Ya, suka suka saya! Mau bikin tulisan ga mutu kek, mau sok pintar kek, mau sok romantis kek, mau bikin lawakan garing kek, semua suka-suka saya, ga ada urusan sampeyan. Kalau mau baca ya silakan, kalau ga suka silakan pencet Alt+F4. Ga ada yang maksa-maksa sampeyan supaya terus melototin blog saya.
SSS!
Sekali lagi, ini bukan berarti saya anti kritik, arogan, keras kepala, atau sejenisnya. Ini hanya sebuah pernyataan kemerdekaan. Kemerdekaan untuk menulis apapun yang sedang saya pikirkan secara instan, tidak terbelenggu apa yang menurut pembaca menarik atau tidak, sopan atau tidak, intelek atau tidak.
Karena untuk sebuah alibi: semua yang tertulis di sini hanyalah weblog. Saya tidak sedang membuat situs berita, bukan pula buku panduan, apalagi jurnal ilmiah. Semuanya tulisan pribadi saya sehari-hari.
Semuanya SSS!

Sepakat, Pak!
Saya juga menulis yang demikian di halaman penjelasan tentang blog saya
Tapi… ada juga yang sedikit memgusik saya tentang sikap saya itu: Apa kalau sudah berbicara tentang sebuah subjek seperti individu tertentu atau tentang hal-hal yang diakui di negara ini – seperti UUD, Agama dan Pancasila, misalnya – saya masih bisa mengatakan suka-suka saya atau “Eh! Ini blognya saya, situ mau apa?!”
Apa pencantuman pernyataan siap bertanggung-jawab itu diperlukan ya, Mas?
Saya bingung dengan kebebasan saya untuk menulis itu. Ada pencerahan, Mas?
Waduh.. kalau bicara pertanggungjawaban itu kayanya masalah moral, bos. Ga berani jawab gw. Lah gw juga pendosa besar kok.
Tapi kalau gw sejauh ini ngedumelin orang biasanya ga pake nama langsung. Biasanya juga pake cerita kiasan. Entah yang kaya begini…
http://hariadhi.wordpress.com/2008/04/09/beginilah-cara-kami-membungkammu-jendral/
..bisa dituntut atau ga.
Tapi beneran sih, walaupun ga dituntut kan nanti pasti ada karmanya. Habis ngejelek-jelekin, biasanya gw balik dicaci-maki sama orang. Siap-siap aja. hi hi hi
Blog Aing Kumaha Aing itu kalo ga salah dicetuskan Bu Jurig mas. Tapi kalau saya salah, ya maaf, saya berprinsip “koment aing kumaha aing” soalnya…
pada dasarnya sepakat…
tapi kalo memang ada salah kan ngak ada salahnya untuk dibenarkan
@ManusiaSuper
Ooo iya, bener. Lupa, lupa…
@aRuL
Iyah, makanya dah ditulis:
Ya…ya… kalau menurut saya mas Hariadhi ini jangan membuat blog yang “mengikuti selera pasar”.
Tanggung jawab blog itu memang buat diri sendiri. Orang lain nggak bisa mengintervensinya.
wajarlah Mas. Orang kan hanya berkomentar pada bagian mana yang mereka ingin komnetari. Malah sering, bagian yang menurut si empunya blog diharapkan untuk dikomentari malah ga dikomentari. (ya misalnya komentar saya ini. ga nyambung kan?
)
yah, kalau sudah begitu sih sabar dan terus meningkatkan kualitas tulisan kita.