Belakangan saya baru merasa sulit sekali meriset sejarah seni, desain, dan kultur. Sebabnya ada dua, pertama karena penulis begituan di Indonesia masih jarang. Mau tak mau harus bikin analisa sendiri dari awal. Batu per batu, lembar per lembar, kata per kata, semua dari nol!
Kesulitan kedua adalah searchnya ga bisa hanya tulisan saja, harus dimasukkan pula gambar-gambar. Lah kalau tulisan tinggal digoogle. Gambar memang bisa pake google image, tapi kan harus nunggu semua gambar selesai diload. Harus dipelototin satu-satu pula!
Masih keinget aja tuh sama pernyataan “Anak IPA cenderung lebih gampang belajar seni dan sosial”. Buahahahaha. *Ngakak guling-guling. Belajar kulit mah anak TK juga bisa.