Arsip untuk Maret 31st, 2008
Saya tidak tahu kapan pertama kali membaca tulisan beliau, bahkan judulnya saya sudah lupa. Tapi kekhasan seorang Putu Wijaya membuat saya terpana saat membuka buku itu untuk pertama kali, kedua kali, ketiga kali, hingga buku itu lecek dan rusak karena terlalu banyak dibawa tidur dan ke wc. Hanya satu buku seumur hidup, dan saya tergila-gila.
Dan ada 5 tahun setelahnya saya tidak membaca satu pun karyanya. Entah karena sibuk atau memang toko buku kita sudah dijejali ratusan judul chiclit, majalah gaya hidup (mesum), Hari Potret, hingga kehebohan novel Dan Brown.
Maka akhirnya dua bulan lalu saya menemukan blog Putu Wijaya. Ingin sekali menangis, penulis yang sudah bertahun-tahun tak bersua karyanya akhirnya bisa dinikmati tulisannya lewat media elektronik.
Yang saya sukai dari Putu Wijaya? Idenya meledak-ledak. Ia bisa menggambarkan kritik sosial yang tajam tanpa harus melukai. Ia malah membuat yang membaca tertawa, menertawakan kebodohan diri sendiri tanpa sadar.
