Beberapa dari kita merasa perlu mengkritik tiap tindak-tanduk orang. Saya dulu juga begitu. Rasanya dunia ini harus jalan di bawah pemikiran ideal saya. Rasanya orang lain terlalu sering melakukan perbuatan tidak berguna. Rasanya orang lain terlalu tidak seefisien saya hidupnya.
Lha, tapi saya lupa. Orang lain bisa saja lebih pintar dari saya. Hanya saja mereka bisa punya alasan tertentu untuk berbuat di luar akal sehat. Mungkin mereka cuma pengen refreshing, atau bisa jadi sekedar menumpahkan emosi, atau bisa saja emang kurang kerjaan. Siapa tau? Lha, emang ada urusan apa saya sama kelakuan dia?
Lha, tapi saya lupa. Setiap orang punya self defense mechanism di dalam dirinya. Kalaupun kritikan saya itu bener, dia pasti bakal melawan habis-habisan. Tidak ada satu orang pun yang senang dikritik. Lha, walaupun mereka bilang “Oh, ya.. saya senang sekali dengan masukan saudara”, di dalam hati pasti sebenarnya mereka ngedumel, “Nih anak sok tau bener, sih!”
Lha, tapi saya lupa. Dunia ini terlalu besar untuk bisa ikut aturan main saya. Semua orang punya caranya sendiri-sendiri. Kalau 6 Milyar orang di dunia ini mau saya keripik satu per satu, bisa habis ini suara. Lha, nyatanya dunia ini tetap jalan dengan aman-aman saja tuh tanpa harus saya atur. Lha, bisa jadi malah lebih kacau kalau mereka semua ikut aturan saya.
Lha, itulah makna berhubungan kan? Lha, Bukan masalah benar-salah. Tapi masalah menjaga perasaan, masalah menyalurkan ekspresi antara yang satu dengan yang lain. Lha, semua ini masalah hidup dengan menyenangkan, bukannya membelenggu diri dengan aturan-aturan.
Lha, bayangkan.. betapa membosankannya kalau seisi dunia ini ikut aturan ideal. Semua orang bergerak, berucap, berpikir, dan bertindak bak robot. Lha, ndak ada yang berani berbuat aneh, soalnya robot-robot ini takut sekali dengan kritikan satu orang aneh bernama Hariadhi. *Beeepp*… *beepp*… *beeep*… Lha, emangnya enak hidup di dunia Utopia?
Lha, lha, lha?
*A tribute to Pak Budi. Turut berduka cita dengan semakin banyaknya gerakan kritikus tulisan blognya. Hehehehe. Saya suka kok tulisan gado-gadonya. Semoga Pak Budi nda kapok menulis seenaknya.
*Makasih buat Hoek atas pinjaman kata “Lha”-nya. It works, bro! Hehehehe

He he he … saya orang yang terbuka dengan kritik. Lihat saja blog saya tidak pernah berhenti dari kritikan. Hanya, ada kritikan yang memang benar (misal dalam salah satu episode cerita bersambung saya, mathematice mengkritik ketidakkonsistenan; dia benar! saya terima, dan seterusnya).
Ada yang memang memberi kritik, for the sake of memberi kritik. Yang ini yang aneh…
Males saya melayani yang kayak gitu karena apapun yang akan kita buat, pasti salah. Lha wong modenya adalah mencari-cari kesalahan. he he he.
lha, berarti kalao kritiknya salah ndak usah dicuekin saja pak. bukan begitu?
Ada banyak kritik kok malah berduka cita?
njrit salah ketik. maksudnya kalau kritiknya salah ya ndak usah didengerin. dicuekin saja. demikian
Budi Rahardjo wrote:
Ada yang memang memberi kritik, for the sake of memberi kritik. Yang ini yang aneh… Males saya melayani yang kayak gitu karena apapun yang akan kita buat, pasti salah. Lha wong modenya adalah mencari-cari kesalahan. he he he.
=> Terima kasih karena telah menggolongkan saya menjadi golongan orang seperti itu. Cukup heran saya karena anda pribadi mengenal saya secara langsung. Apa tidak bisa menilai saya orangnya seperti apa Mas Budi?
*heran*
hahahha.. mas BR seperti menutup mata.. pengennya di koment positif terus.., padahal tidak selamanya saya koment negatif di blog ybs.. meskipun jujurnya lebih banyak negatif.. wahahaha
Jujur, saya nyaris tidak pernah baca blog pak Budi sekarang ini (kecuali posting yang technical). Yang narsis / curhat saya lewatkan.
Tapi, saya tidak sampai mengkomentari secara negatif. Lha itu blog punya beliau, ya bebas saja dong.
Apa beliau pernah berjanji bahwa akan selalu posting yang berguna bagi orang lain ?
Seingat saya sih tidak.
Kritik bisa positif, bisa negatif. Tapi kalau orang selevel Eep, yang saya tahu adalah konsultan HRD, kok bisa terjerumus ke komunikasi negatif, agak mengherankan juga sih.
Apalagi kalau sampai berkomentar seperti ini : Sumpah boss, lama-lama capek juga hati baca blog sampeyan.
Waduh, apa sih gunanya berkomentar seperti itu ?
Kalaupun mau memberi nasihat, kita musti ingat etikanya :
1. tidak di depan umum
2. disampaikan dengan cara yang baik.
Ini standar di agama Islam, kalau di agama lain saya kurang tahu tapi saya kira akan serupa.
OK, mari kita menyumbang kritik membangun/positif ke kawan-kawan kita.
Terima kasih Pak Sufehmi.
Lha…cuma bisa takjub ngeliat komen-komennya. *cring *cring
Eee… itu trekbeknya siapa yah? berkunjung, ahhhhh
Kalau menurut pendapat saya pribadi, kritik/celaan yang “for the sake of memberi kritik” [meminjam istilahnya Pak Budi] tetap adalah sebuah kritik. Apakah tujuannya memang membangun, mengkoreksi, atau misuh-misuh nggak jelas, tetaplah sebuah kritik yang sama dengan kritik yang lain. Saya lebih banyak membiarkan saja dan nggak menjawab kalau tipe kritiknya seperti itu.
Yah, tapi tidak semua orang bisa menerima kritik, dan tidak semua orang bisa memberikan kritik dengan baik.
Itulah romantika blog….
Pusink juga bikin kesimpulannya.
Ini berhubungan dengan EQ juga kali yaaaah. Banyak orang dengan IQ tinggi, bisa bicara dengan intelek. Tapi cuma sedikit orang yang punya EQ memadai, mampu membuat pemikirannya diterima orang lain dengan senang hati, bukannya malah bikin rusuh.
*Ah, apa sih gw ini. Mau nyaingin Ary Ginandjar? heheheh. Yo wis lah. Yang bertikai silakan kalau mau diteruskan. Kalau mau berdamai juga boleh.
Iya bang, manusia pada dasar-na kagak suka dikritik karena kritikan biasa-na dianggap sebagai “penyerangan” terhadap harga diri. Sekalipun derajat anti-kritik setiap orang berbeda-beda, tafi tetep aja orang lebih memilih tidak menerima kritik.
Persoalanna bukan pada boleh atau kagak mengkritik, tafi bagemana menyampeykan kritik dengan baek dan bijak…
Kritik itu biasa, manusia ada lemahnya, woo hooo..
Kenapa ya org Indonesia kalo udah dikritik jadinya bawaanya negatif melulu. Disapprove aja kenape?
lho rasan2nya pindah sini tho, barusan saya juga buka di tempat pak BR.
-yglagilatiannulis-
Menutup mulut? setuju. Hal ini sulit sekali tapi akan lebih mudah kalau dibiasakan sejak dini.
Menutup mulut untuk kebaikan sih bagus, gpp.
Keritik & Keripik itu beda tapi sama2 enak.
Dengan keritik kita bisa introfeksi diri dan terpacu berbuat lebih baik lagi. Kalo keripik, ya masa g tahu.
Terus berkarya Bos!
ya klo gak mau baca blognya orang laen ya gak usah baca…gitu aja kok repot…..
klo eneg dengan blog orang laen ya gak usah blogging
heran, semakin tinggi ilmu kok malah childish…!!!
ini kritikan apa bukan ya
ahhh…daripada saling menghujat lebih baik dengerin Black Sabbath…
tomy——-> penggemar Band-band legend
maap….saya lagi merenungkan komen sebelumnya
kadang-kadang kita perlu sedikit pemanasan untuk mencairkan kebekuan….. karena kalau terlalu lama dingin takut nantinya menjadi salju abadi.
“mau saya keripik satu per satu”
emang mau kasih keripik singkong ya mas
heheheheh
http://www.satyasembiring.co.cc
Tapi ada juga yg jualan keripik laris lho mas, dibayar mahal lagi, namanya kripikus hehe…salam kenal
Nice post…
Tertarik dengan judulnya, mungkin akan lebih baik kalau menjadi “belajar mendengarkan” atau “belajar menghayati komentar”
IMO, kalau “belajar menutup mulut” kok kesannya terlalu pasif gitu
Nice post…
Tertarik dengan judulnya, mungkin akan lebih baik kalau menjadi “belajar mendengarkan” atau “belajar menghayati komentar”
IMO, kalau “belajar menutup mulut” kok kesannya terlalu pasif gitu
hue.. gitu yah?
okeh okeh lain kali judul diperhatiin
Itu judulnya spontan keluar begitu aja, sih.
@BR: Ade setuju:
Katanya film “LOVE” kita tidak akan tahu apa yang terjadi esok jika kita berhenti sekarang.
*Aih… gak nyambung De* (gak berani comment di blog BR, lagi pada panas kayanya), disini DAMAI itu ada
-Ade-
belajar menerima kritikan juga
saya nambahin itu deh
sama seperti pepatah bule ” power tends to corrupt”, maka terkenal itu, ya (biasanya) cenderung tinggi hati/sombong.
Har .. saya juga mau kripik. Pake sambel apa ga?? jangan yang pedes ya
ini niy lg ngomongin isi blog orang2 yg beraneka ragam kan??? wedew gimana blog sayah yah.. yang isine curhat semua… mohon untuk tidak di baca deh.. apalagi komentar pedes.. saya ga kuat sama kata2 pedas. bisa2 malah mewek semaleman:(
bagi kripikna dunks;)
*nengadahin tangan*
Kripik.. yeah self defense dulu awalnya,
apalagi orang lain yang ngasi…
manusiawi banget dah…
kripiknya…
dicerna dulu, kadang bisa kecerna
kadang sakit perut..
namanya juga orang, nothing’s perfect