Perhatian:
Membaca tulisan di bawah perlu keterbukaan. Kalau anda merasa saya sok tahu, baca dulu bagian ini.
Fake di sini bukan berarti desainer boongan. Hanya saja menyewa atau menghire desainer seperti ini hanya bikin pengeluaran anda bertambah, bukannya memberi nilai tambah ke produk yang anda jual. Pada dasarnya pekerjaan fake designer bisa tergantikan oleh tenaga biasa.
Jadi apa bedanya desainer beneran dengan yang fake, Har?
1. Fake designer meributkan betapa upahnya yang rendah merusak moodnya. Real designer menjadikan budget terbatas sebagai sebuah tantangan. (tentu saja anda tidak boleh menjadikan ini sebagai alasan tidak mau bayar desainer mahal-mahal)
2. Fake designer sibuk mempelajari ribuan trik dan tips suatu program. Real designer mengambil beberapa trik yang bisa dia kuasai dengan maksimal dan mengkreasinya dengan banyak cara.
3. Dalam bekerja, fake designer menghabiskan seluruh waktunya berkutat di belakang komputer. Real designer menghabiskan sebagian besar waktunya melakukan riset di dunia nyata untuk menemukan ide bagus yang bisa dieksekusi dalam waktu singkat.
4. Fake designer tergila-gila dengan ide dari dunianya sendiri. Real designer mengidentifikasi kebutuhan perusahaan anda agar idenya bisa sesuai.
5. Fake designer terpaku pada teknologi dan gadget, real designer berpegangan kepada seni dan pengetahuan.
6. Fake designer tergila-gila dengan teori praktis desain. Real designer memperluas wawasannya dalam banyak bidang pengetahuan.
7. Fake designer tenggelam dalam budaya populer. Real designer meneliti seluruh perjalanan budaya.
8. Fake designer tergila-gila dengan konsep everything for everyone. Real designer percaya dengan teori “If you are trying to be everything for everyone, you can’t be anything to anyone.”
9. Fake designer mengkompromikan desainnya dengan selera anda. Real designer mengkompromikan desainnya dengan kebutuhan anda. (hati-hati, selera dan kebutuhan beda, lho!)
10. Fake designer meyakinkan anda pentingnya mengikuti trend desain tahun ini. Real designer meyakinkan pentingnya posisi anda sebagai trend setter.
Eh.. itu pendapat pribadi saja, yah. Ga bermaksud menghina siapa-siapa. Jangan dijadikan pegangan. Saya sendiri pun sering berada dalam posisi fake designer. Tapi saya sedang berusaha mati-matian jadi desainer sesungguhnya.
Tersinggung? OK, saya akan bilang lagi: Baca dulu bagian ini!

wah, jelas kelihatan mencolok sekali, antara yang amatir dan yang frofesional. Nah, kalo mas Har sendiri? fake ato real? ato semi? *ditendang*
Udah ngaku kok, masih fake. Hihihi. Jalan menuju real designer masih jauh dan berliku. Hohohoho, Mari berjalan menuju mentari sore yang terbenam!
hehehe… kan ada saying tuh har, “originality is never original”… nah gak salah kan tuh jadi fake.. nyari inspirasi… bisa2, ntar jadi real…
Saya fake designer… really really fake
dari pengalaman.. mendapatkan orang seperti ini susah sekali.. untungnya real designer bisa didapat dari fake desaigner yg mau belajar, ikhlas serta tabah dalam menghadapi cobaan.. *kok kyk cirinya orang bertakwa ya* hehehe..
yep.. kalau dipikir beda dua yang di atas itu ada di semangatnya. Jadi kesempatan hijrah dari fake jadi real terbuka sekali.
Nomor 10 dan 7 itu yang mungkin masih sering ada ya.
Numpang ngesave ya.
Saya menjadi tercerahkan.
Baru kali ini saya nyasar kesini dan senang bisa membaca postingan ini. Kebetulan saya punya halaman rancang di blog saya.
Nah, gara2 ada halaman rancang tersebut, saya di’nobat’kan pembaca menjadi seorang arsitek padahal saya bukan seorang arsitek. Mudah2an saya tidak termasuk dalam fake designer
Saya link blog ini di halaman rancang saya ya. Thanks sebelumnya.
yah… masyarakat emang sering melabeli seenaknya. Dari sana juga kadang ada orang ga pakar™ tapi dapat gelar pakar™. (seperti siapa yah, hohoho)
Tapi ga sedikit juga kok real designer yang ga nyobain pendidikan formal. Dan sukses. Siapa aja yah.. nanti gw liat-liat lagi catatannya.
Semua balik lagi ke usaha dan semangat. (eh tapi gw liat-liat mas erander ini jangan-jangan emang arsitek beneran? hohohoh)
@Xaliber von Reginhild
Tapi baca notenya di bawah, jangan dijadikan pegangan hehehehe. Itu tulisan renungan buat diri sendiri kok sebenarnya.
Silakaaan.
Yep, no 10 ma 7 sering, tapi susah keliatan sama orang lain.
tenang saja…saya biasanya cuma dibayar rokok atau kaos oblong. ga ada hubungan antara mood dan bayaran kok kalo buat saya. biar dibayar tinggi, kalo lagi nggak mood ya tetep aja hasil kerjaan saya jelek kuadrat
Ggggrrrrhhh .. koq ikut2an kasih gelar arsitek kesaya sih
Saya benar2 terkesan dengan real designer yang kamu formulakan :
1. Budget terbatas sebagai sebuah tantangan .. Gue banget gitu loh
2. Mengambil beberapa trik yang bisa dia kuasai dengan maksimal dan mengkreasinya dengan banyak cara .. Saya teringat kisah McGyver.
3. Menghabiskan sebagian besar waktunya melakukan riset di dunia nyata untuk menemukan ide bagus yang bisa dieksekusi dalam waktu singkat .. Makanya pas deadline, baru kelar.
Sebenarnya pengen saya komentari satu2 .. tapi ntar malah saya bikin postingan disini *halah*
@erander
yowis kalau nda mau juga sayah ndak maksa. Bikin aja komentar satu-satu di blognya mas. Biar lempar-lemparan trekbek. 
ya udah, jangan arsitek… Erander sang Pakar™ arsitektur aja gimana. hi hi hi.
@Dekisugi
Wew.. minta royalti dong. Berapa persen keuntungan coconet, gitu. Haha hihi.
mo fake ato real yg penting ada duitnya.
oh begitu…
makasih buat komentarnya, Mas!
ini seru,
mau real atau fake designer, menurut saya balik ke konsumennya (klien), soalnya toh konsumen sendiri yang akan menilai.
Dan sedikit menambahkan, (real) designer memiliki good eyes for good design dan bertanggung jawab atas karyanya (goals) karena dampaknya berpengaruh pada bisnis yang sedang/ akan dijalankan oleh klien.
(fake) designer? mmm…
Iya juga yah. mungkin bisa jadi poin nomor sebelas. Makasih mas!
bak melihat anak kantor dan DB….
db apaan bos?
euh? bukan DB yang punya blog itu kan?