Ini terinspirasi kuliah Sejarah Seni Rupa Indonesia hari Jumat siang. Hari itu sedikit spesial, karena yang mengajar adalah dosen yang tidak biasanya mengajar, yaitu Pak Wiyoso. Mungkin tidak banyak yang kenal, tapi beliau banyak menulis diktat-diktat sejarah seni rupa, baik barat, timur, maupun Indonesia.
Nah… dari ribut-ribut Malaysia yang dituding mencuri Reog Ponorogo, saya mencoba mengambil benang merahnya dengan sejarah Indonesia di masa lampau.
Seperti kita tahu, Indonesia bukanlah bangsa yang independen dari pengaruh budaya asing. Bahkan nenek moyang kita pun harus mengimpor dari daratan lain, yang lalu menyusuri sungai-sungai di Asia Tenggara, kemudian “terdampar di Indonesia. Nah.. seprimitif apapun, ia tetap membawa kebudayaan dari daerah asalnya. Misalnya berbagai jenis alat logam dari daerah Dongson.

Arsitektur Hindu, Belur Chennigraya. “Diimpor” dari arsitektur Yunani Kuno
Di zaman Hindu-Buddha pun, Indonesia mengimpor banyak kebudayaan. Yang paling utama dari India. Tak lama diikuti China yang ikut aktif dalam perdagangan internasional masa itu. Sebagai hasilnya kita bisa lihat candi-candi, prasasti, dan arca yang walaupun sudah beradaptasi dengan budaya “asli” Indonesia, tetap memperlihatkan ciri kebudayaan luar. Contoh gampangnya saja Borobudur, yang mengadaptasi arsitektur stupa, dan diaplikasi ke bangunan berundak-undak.

Arsitektur Candi Mendut, mirip sekali dengan Belur Chennigraya.
Lalu dengan terbukanya perdagangan pada masa Islam, kebudayaan Indonesia juga turut mengimpor budaya dari Gujarat, Persia, Turki, dan Arab. Contohnya dengan gampang bisa kita lihat dengan kehadiran bentuk kubah melengkung di Masjid (berasal dari Eropa Timur, karena arsitektur Arab asli sendiri tidak mengenal bentuk kubah). Lalu dari beberapa perayaan seperti Pariaman, Sumatera Barat yang mengenal Tabut, upacara mengenang perang yang menewaskan cucu nabi.
Saat Eropa memasuki wilayah Nusantara, Indonesia juga turut mengimpor budayanya. Katakanlah keroncong, yang dekat sekali dengan kesenian fado, dari Portugis. Atau kebudayaan memakai jas, dasi, dan celana bahan untuk bekerja. Padahal kalau dipikir-pikir pakaian seperti itu sama sekali tidak cocok dengan iklim tropis Indonesia. Lebih jauh lagi, budaya menonton di Bioskop, mengalahkan wayang dan ketoprak, itu juga diimpor dari Barat.
Dalam penguasaan Eropa, banyak pula berdatangan pendatang dari Cina. Suka tidak suka, mereka pun membawa kebudayaannya sendiri, seperti barongsai, kampung pecinan, juga kebiasaan makan sayur dan memakai mangkuk. Yang paling dikenal masyarakat tentu budaya meledakkan petasan.
Di masa modern, kebudayaan rakyat kita juga banyak yang mengimpor, lho. Tidak usah jauh-jauh, sinetron yang biasa muncul di TV apa tidak jauh-jauh dari budaya telenovela? Lalu dangdut apa bukannya impor dari India? Budaya naik bajaj apakah asli Indonesia?
Nah.. dari sekian banyak contoh yang saya ajukan, berapa banyak di antaranya yang berani diakui pemerintah sebagai kebudayaan mengimpor dari luar? Padahal contohnya kalau mau dibahas akan lebih banyak lagi, lho.
Update
Karena banyak yang berkeras bahwa Indonesia tidak bisa disebut maling budaya karena seninya sudah diadaptasi, saya ingin mengajukan satu kasus yang cukup menarik, yaitu Patung Ganesha:

Ini adalah patung ganesha yang aslinya adalah milik India, sebagai sumber agama Hindu. Peninggalan Hoysala.

Seiring perkembangan agama Hindu di Nusantara, kita jadi bisa melihat hasil “impor budaya” Patung Ganesha ini di salah satu situs kita yang terkenal, Candi Prambanan.

Dan di abad 21 ini pun, patung Ganesha masih dipakai sebagai maskot salah satu universitas bergengsi di Indonesia. Contohnya seperti yang kita bisa lihat di situs Laboratorium Telematika ITB ini
Nah.. jika Malaysia bisa dihujat karena seni Barongan mereka memakai reog Ponorogo dalam tariannya, apa kita juga bisa dituntut India karena me-”maling”-i Ganesha sebagai maskot perguruan tinggi? Apa Prambanan bisa diklaim sebagai milik India karena di dalamnya ada patung Ganesha?
Jadi bisakah Indonesia disebut errr… maling?
Credit
1. Foto Candi Mendut di atas masuk wilayah Public Domain.
2. Foto Belur Chennigraya (diupload ke Wikipedia Bahasa Inggris oleh user dineshkannambadi), Patung Ganesha dari Hoysala (quadell), Ganesha dari Prambanan (ravn) ada di bawah lisensi GFDL. Silakan menyebarkan ulang gambar-gambar ini dengan syarat harus tetap memakai lisensi GFDL dan memberi link ke Wikipedia Bahasa Inggris sebagai sumbernya. Lebih baik lagi jika fotografernya diberi credit.
3. Logo Laboratorium Telematika ITB di atas, diambil dari http://telecom.ee.itb.ac.id/ adalah hak cipta yang bersangkutan. Digunakan secara kepepet untuk menyampaikan informasi secara visual. Penggunaan logo dengan resolusi rendah bisa dimaafkan atas pertimbangan penggunaan adil, dan saya tidak bermaksud menjelek-jelekkan instansi yang dimaksud.

tulisan yg menginspirasi mas… tapi gimana dengan ‘pencurian’ pulau, kayu illegal dan benda2 tangible lainnya mas
wah.. ga tau. Geografi dan Lingkungan bukan bidang gw. Mungkin gw ngusulin 2 kata aja? Timor Timur. Silakan dibahas & didebatin. Ga akan dimoderasi, kok.
tapi khan udah dikembalikan…
Nah.. yang begitu gw ga tau jawabannya
Kan udah ngaku (baca:ngeles) bukan ahli Geografi atau Lingkungan. hehehe
Err… Tapi, kalau dari sejarah, impor itu bukan dicuri dengan mentah-mentah begitu saja lho, Mas. Yang bawa malah importirnya sendiri, lalu dibaurkan dengan budaya lokal yang ada.
Dikatakan ada plagiatnya, ada sih…
Tapi…
Auk ah! Ini jadi seperti bicara antara sajak “Karang-Bekasi”-nya Chairil Anwar sama “The Young Dead Soldier”-nya Archibald McLeish. Serupa tapi tak sama.
Lha… kalo RASA SAYANGE dan REOG ya beda deh kayanya
Itu ada tahapannya juga, kok, Mas Alex. Seperti candi tidak tiba2 langsung jadi borobudur, tapi ada juga yang masih bulat-bulat meniru bangunan India. Nama candinya gw lupa, lagi ga bawa catatan.
Setelah lama berkembang, baru bisa terjadi akulturasi, arsitektur asli bisa masuk ke budaya impor. Seperti barong Malaysia yang lama-lama juga akan menemukan jati dirinya sendiri, bentuk dan gerakannya jadi jauh dengan Reog Ponorogo.
hmmm… iya siiihh… memang… tapi itu kan zaman dahulu kala kaan?? bukankah orang luarpun dengan sengaja mengajari indonesia dengan harapan bahwa orang mereka akan menjelma menjadi bagian dari indonesia yaah??
in other words, masuknya kebudayaan luar ke dalam indonesia itu merupakan sebuah strategi agar mereka bisa menguasai indonesia kaan??
gw rasa sih “mengklaim” dan “mengimpor” adalah dua hal yang sangat berbeda. no further comment ah, kebetulan gw baru post sesuatu yang agak kontradiktif dgn tulisan lo ini
hidup Indonesia! hidup Mike!
budaya itu kan proses asimilasi juga.
nah ketika budaya persis plek itu baru perlu permasalahkan
kita terlalu banyak mengurusi orang lain, padahal di dalam negeri masih banyak masalah
Contoh yang kdang lupa… SARUNG. pakaian ala santri ini jika ditilik di negeri asalnya di Yaman. Silahkan di sana menjadi pakaian yang khas warga setempat bukan Gamis seperti di Mekkah/Madinah…
Saya kira ini bukan mencuri, tapi karena kebiasaan para perantau dari Yaman inilah yang memperkenalkannya…
salam
Poin yang bagus, mas…
Bicara apa budaya asli Indonesia sendiri memang sulit… karena pada dasarnya begitu sih.
Baru kemarin juga saya dengar bahwa katanya di Malaysia sendiri budaya-budaya yang katanya diklaim Malaysia juga dipopulerkan oleh orang Indonesia disana.
tapi kan…. hehe bingung
pokoknya indonesia bukan maling(TM)! *mana ada orang yg mau disebut maling*
Hehehe.. kebebasan berpendapat, pan? Ga ada yang ngelarang buat beda kok
@kuchikuchi
Haha.. you posted a nice article. Cuma masalah beda pandang aja. Gw suka kok!
@Kurt, Nane, Xaliber
Ya begitulah kalau sudah berbicara soal seni rakyat. Siapa meniru siapa atau siapa mencuri siapa sudah susah ditelusuri.
@Hedi
Betul.. betul. Saya 100% setuju. Kita juga ga pernah nanyain diri kita sendiri: “Kapan terakhir lu main-main ke museum?”, kan?
gggrrhhhh,,,
gak ada abisnya bro
nmanya hidup
maling2,,,tu asex,,,buat sensasi
uppsss,,,,semuanya SALAH,Sama2 maling,sama goblok,sama2 edaaaaaaaaan
sadar dnk KESEMPURNAAN hnya milik TUHAN
g da gunanya ngorek2 kesalahan ampek dalem
cari solus kembalikan ke diri sendiri trus aplikasikan wat nama baek bangsa,
http://uncyclopedia.org/wiki/Indonesia — ada yg tau founder nya siapa?
uhm … sampai kapan kita semua akan berhenti dikritik dan mengkritik ya? koq ky’nya nga abis-abis nya…
sampai kapan juga kita akan berhenti dijelek2kan dan menjelek2kan?
Kemaren g mikir, sptnya ga ada tmpt yg ideal untuk hidup tenang. Tapi tiba-tiba g kepikiran temen kuliah dulu yg orang Thailand. Dengan bangga, dia mengatakan “I’m Thai people.” Ternyata disana tidak ada yang mengaku mereka adalah etnis Chinese, atau keturunan Chinese, atau etnis-etnis yang laen. Tapi mereka adalah “THAI people”. Tidak ada perbedaan etnis, suku, jenis kelamin sama sekali. Di Indonesia, banci masih dikucilkan. Di Thailand, banci adalah manusia biasa.
-..wish I could deliberate more..- ky’nya harus di blog ndiri dh.
*peace Indonesia*
wew, klo menurutku sih, sebenernya nggak ada yg layak disebut ‘maling’ (andai semua pihak mau berfikir jernih dan tdk terbakar emosi), karena pasti semua ada asal-usulnya, ada alasannya.
klo soal kasus hubungan malaysia-indonesia sih menurutku, terlalu banyak bumbu yg ditebarkan media, shg kasusnya menjadi sedemikian ruwet (ini cuman opini pribadi tanpa ada penelitian sebelumnya loh), hehe…
Gimana dengan maling soap opera?
Embyeerrr….. Intinya mah emang harus pake etika.. bajak membajak itu emang ‘merugikan’…
Kalo saya bikin lagu nih misal.. trus lagunya booming.. terus dibikin album trus abis itu kalo booming biasanya dibajak dunk…
Mungkin secera materi rugi bandarr… Tapi.. mungkin akan ada juga kepuasan batin… Seneng aja orang ampe bela2in ‘bajak’ buat dengerin lagu saya.. Berarti artinya lagu saya memang segitu diidam-idamkannya…
Wew… tidak ada materi yang dapat menggantikan rasa puasnyaa…. hehehehe….. Jadi pengen bikin lagu beneran nih eykeh..
^_^
Maksudnya,,,
oRaNk LuaR nEgRi nyoLoNg pUnya Indonesia,,,,
tRuZz Indonesia nyOloNg pUnyA luar nEgEri????
tp,,, qta seLaLu banYak kcurian….. dR pDa lUar nEgEri…
Maksudnya ya budaya itu nda bisa diidentikkan dengan hak milik mas. Justru makin sering dishare dia akan makin berkembang. Sebaliknya kalau kita terus menganggap budaya itu seperti kalung emas yang harus disembunyiin rapat-rapat ya akhirnya yang rugi kita sendiri.
gtw
waduh sori neeh sekedar komen aje bwt Lo..
Gw jg mahasiswanya Prof. Wiyoso Seni rupa IKJ
Menurut GW, sedikit beda men pemahaman religi ma Budaya.. meski religi or kepercayaan salah satu bagian dari unsur budaya itu sendiri..
kalo lo ngambil contoh PAtung Ganesa, or candi prambanan.. itu kaitannya apilikasi pemahaman religi men.. mereka mengimani sesuatu lalu mereka mengapresiaikan suatu yang mereka imani itu.. sama aja kaya Kubah masjid tau ga bentuk aslinya dari mana???
nah kalo kasus reog ponorogo emang itu udeh jelas-jelas kesenian Indonesia… Yang diklaim milik negara yang ngakunya “tetangga”…
jadi ni kasus rada2 ga bisa disamain…
Ye ude siggitu aje dulu
boleh…. silakan beda pendapat.
Kalau menurut gw agama bisa juga diposisikan sebagai budaya, itu yang nanti ngejelasin kenapa kita harus mengaitkan karya seni dengan penyebaran agama. Seperti masalah kubah, bisa diartikan sebagai sesuatu yang sakral atau sebagai wujud citarasa seni (misalnya kubah masjid-masjid di palestina bisa bermacam-macam bentuknya, tidak ada standar. Kalau itu didasari agama tentu ga akan ada variasi. Bahkan masjidil haram saja tidak didominasi kubah.)
Pa kabar tu Pak Wiyoso? Masih ngajar?
Kubah masjid…. Kalau ga salah itu pengaruh arsitektur kristen bizantium, kan? Itu juga ada kaitannya dengan masalah penyebaran agama.
dsf
Walaupun indonesia juga coy… t kan g maling…. jdi… walau pun qta ng-copi masih di edit dulu… nah malaysia…. dia jeplak mentah-mentah.
contoh….candi di india ama d indonesia masih banyak perbedaan…
reog ponorogo ama barongan malaysia…?