Real, Realis, Realisme

Gila, lukisannya realis banget!

Itu sepenggal komentar yang saya dapat dari teman waktu masih ikut pelajaran seni lukis di SMP. Dia kagum karena kemiripan lukisan saya, tiruan pemandangan yang saya lihat dari halte bus di depan sekolah. Secara masih ABG, komentar itu bikin saya melambung ke langit ketujuh.

Tapi sekarang kalau dipikir-pikir saat kuliah seni rupa, komentar seperti itu bisa terkesan menghina. Kalau realis yang dia bilang karena mirip aslinya, oke oke saja. Namun kalau setelah saya belajar banyak gaya dan aliran di seni rupa, julukan lukisan realis itu bikin saya senyum-senyum kecut.

Istilah realis adalah salah satu produk salah kaprah di Indonesia. Kita selalu merujuk lukisan yang terlihat asli sebagai lukisan realisme. Padahal benarkah demikian?

Definisi Realisme

Kita tidak bisa meramalkan siapa yang pertama kali mempopulerkan istilah ini, tapi coba lihat katalog pameran “Seni Lukis Indonesia Tidak Ada”. Di sana ada tulisan Sudjojono tahun 1948 berjudul “Kami Tahu ke Mana Lukisan Indonesia Akan Kami Bawa”, bunyinya:

Realisme bukan kepunyaan Barat saja. Realisme adalah kepunyaan kita bersama, kepunyaan tiap-tiap anak manusia. Kalau da Vinci, Duhrer, Cezanne, kebetulan orang-orang Barat, itu lain soal. Tiap-tiap anak Tuhan, meskipun ia di Betlehem (Kristus), ,meskipun di Makkah (Muhammad), meskipun di Tiongkok (Laozte, Confusius…..

Tapi konsep realisme di Indonesia sendiri sudah dikemukakannya dalam tulisan “Kesenian Melukis di Indonesia, Sekarang dan yang Akan Datang”, pada tahun 1939:

Inilah realitet kita….sebab kesenian yang tinggi ialah buat pekerjaan yang berasal dari hidup kita sehari-hari, diolah di dalam hidup seni sendiri….

Dalam wikipedia, realisme diartikan sebagai suatu gaya hidup yang pernah berkembang di Eropa pada bagian akhir tahun 1800an, di mana segala sesuatu diungkapkan apa adanya, tanpa perlu disisipkan pesan tersembunyi seperti dalam lukisan-lukisan abad pertengahan, dibuat jadi lebih indah, lebih heroik, atau agung seperti halnya dalam lukisan romantisme atau mannerisme. Pada akhirnya realisme akan berujung kepada gambaran kehidupan sehari-hari seniman dan cenderung mengeluarkan tema kepahitan hidup (tidak semua dalam bentuk jelek, tentu saja). Realisme bisa muncul dalam sastra, seni lukis, seni patung, dan banyak seni lainnya.

Berapa aliran yang sering tertukar dengan realisme, dalam hal kemiripan, adalah romantisme, naturalisme, dan impresionisme. Romantisme memberi banyak sentuhan keagungan (paling tidak keindahan berlebihan), naturalisme memfokuskan kepada benda-benda alam, sementara impresionisme mempertahankan kesan sesaat. Singkatnya, kita tidak bisa mengadili gaya suatu lukisan dari kemiripannya dengan benda asli. Yang dinilai dalam menentukan gaya suatu lukisan adalah semangatnya, bukan teknik menirunya.

Apakah realis harus menggunakan teknik “hebat” agar imaji yang dihasilkan terlihat seperti asli? Tidak juga. Kita bisa melihat salah satu cabang realisme, yaitu realisme sosialis seperti Diego Rivera atau Jose Clemente Orozco di Mexico yang malah menampilkan banyak stilasi.

Definisi Realis

Sesuai dengan pola pembentukan kata di Bahasa Inggris, realist ditujukan kepada pelukis yang karyanya termasuk dalam bahasan realisme, seperti juga impresionis untuk menunjuk seorang Renoir.

Contoh seorang realis yang cukup terkenal adalah Gustave Courbet.

Karena itu cukup lucu jika mengomentari “Wah lukisan lu realis ya?” (sejak kapan lukisan bisa melukis?). Seharusnya kita perbaiki menjadi “Wah, lu realis ya?” atau “Lukisan lu gaya realisme ya?”

Lalu Yang “Seperti Asli” Itu Disebut Apa?

Nah, inilah buruknya kebiasaan berbahasa orang Indonesia. Kita senang dengan istilah panjang dan ngejelimet, padahal ada kata yang singkat dan cukup mengena.

Anda boleh pilih dua kata ini, nyata atau real. Tidak seperti istilah realisme, real mencakup hal yang lebih luas. Kemiripan dengan objek dalam dunia nyata sudah bisa disebut real. Tapi ada kelemahan, kata real tidak bisa digunakan misalnya dalam romantisme. Karena pada kenyataannya objek yang dipakai dalam lukisan romantisme tidak seratus persen real (sering diperbagus).

Karena itu sangat bijak untuk memakai kata Bahasa Indonesia, “Lukisan ini terasa nyata”. Kalau mau kerenan dikit, bolehlah anda pakai Bahasa Inggris “It looks real”. Nah kalau pujiannya seperti ini, baru saya bisa tersenyum dengan lubang hidung sebesar gentong.

Apakah Yang Bagus Itu Selalu Yang Kelihatan Nyata?

Itu pertanyaan klise.

Dalam seni rupa, biasanya semakin seseorang menguasai teknik membentuk benda seperti nyata, semakin ia ingin terbebas dari teknik tersebut. Karena itulah bisa lahir impresionisme. Lebih lanjut impresionisme berlanjut menjadi post impresionisme, expresionisme, hingga banyak aliran-aliran yang oleh orang awam disebut “abstrak”.

Untuk yang kurang terbiasa dengan keindahan (tidak usah jauh-jauh, orangtua saya yang jarang nonton pameran lukisan termasuk kategori ini), biasanya sangat menyanjung kemiripan. Hal ini terjadi karena indera keindahannya masih belum peka. Untuk merangsang indera ini perlu keindahan yang super duper, wujudnya ya kemiripan itu.

Hal ini bisa dianalogikan dengan makanan. Buat yang tidak terbiasa dengan wisata kuliner biasanya tidak akan bisa menikmati nikmatnya makanan Eropa yang cenderung hambar. Makanan Cina yang vetsinnya naudzubillah bakal disanjung-sanjung karena nikmatnya sangat berasa. Tapi untuk yang sudah berpengalaman biasanya akan sangat menghagai konsep makanan Eropa yang esensial. Sedikit tambahan merica buat mereka akan berbeda artinya bagi rasa di lidah.

Eh, tapi bukan berarti saya ga suka masakan Cina, lho…

Gambar di atas adalah foto dari lukisan Gustave Courbet, L’enterrement à Ornans. Lukisan tersebut sudah masuk wilayah public domain karena penciptanya telah meninggal lebih dari 70 tahun. Diambil dari Wikimedia Commons.

About these ads

17 Responses to “Real, Realis, Realisme”


  1. 1 anggar 13 Mei, 2008 pukul 12:36 am

    oo………… bulet
    makasih buat ilmu barunya
    aku termasuk salah seorang seng salah kaprah.
    Iya ya….. realis itu kan “nyata”.
    Jadi lukisan gaya realis itu berarti lukisan yang memberikan kesan perasaan dan penampakan yang terlihat wajar seperti kenyataan ya?

  2. 2 cumplung 15 September, 2008 pukul 10:15 am

    saya sangat tertarik dengan lukisan realis ,karena saya
    juga seorang pelukis.Tapi masih pemula sih,oleh karena itu
    kalo boleh nih,kalo ada pameran tolong poster pameran tolong dikirim ke fkip uns surakarta.
    Biar bisa ikutan pameran gitu.Trimakasih ,semoga harapan saya bisa terwujud.
    so long amigos,good bay,kutunggu postermu

  3. 3 santribuntet 15 September, 2008 pukul 10:27 am

    Ooh jadi yang tepat itu lukisan nyata yah…
    btw, lukisan nyata lebih enak dinikmati bagi yang gak ngerti karya rupa seperti saya… :D

  4. 4 rHanDiE 12 Oktober, 2008 pukul 7:18 pm

    eMMzz,,
    gMn kLo aLIRan reALIsmE itU,,
    dIkasIH cOntOh pLKis maNCA negARAx jG…
    bLsZZ yA…

  5. 5 nugroho tompel 21 Desember, 2008 pukul 1:57 pm

    bacara masalah realis tidak dapat dilepaskan dari yang “non realis “. Sebab dari perjalanan yang telah ditempuh ternyata untuk mencapai titik realisem , kita harus bergejolak dulu pada titik “non realis”. Danmemang secara realisme yang ada peredaran realis harus dibentengi terlebih dahulu oleh ” non Realis ” yang nota bene memerlukan senjata pamungkas yang tidak sedikit.
    Disisi lain rasa kepuasan individual sangat beragam dalam ” berceloteh ” dengan garis , bidang , warna maupun teksture.
    Semuanya kembali ke anda , ingin realis atau cukup puas dengan non realis.
    la art pour la art. by tompel alumni seni rupa UNS – Surakarta

  6. 6 nee 11 Februari, 2009 pukul 1:30 pm

    wah… lukisannya keren banget, itu bener kamu yang buat yah?

  7. 7 samsugatra 10 Maret, 2009 pukul 9:42 pm

    realis….adalah pemahaman,bukan visualisasi yang kasat mata saja. realis adalah ada…dalam pengertian filsafat pengertian ada dibedakan menjadi 3….ada dalam kenyataan,ada dalam kemungkinan,ada dalam angan angan….jadi dlm lukisan ,gambar ataupun apa namanya…. relialis adalah konsep pemahaman seseorang terhadap karya yang dibuatnya….samsu alumni sastra seni rupa uns

  8. 8 mas narto cirebon anake risman marah 26 Januari, 2010 pukul 3:10 pm

    saya alumni ISI Yogyakarta 1995. Jurusan seni Tari.Anake angkat pak Risman Marah Patangpuluhan pamularsih Yogya
    Beri contoh gambar sebanyak-banyaknya agar para murid dan mahasiswa saya mengapresiasi dan tambah ngerti. Trima kasih banyak, saya jadi ndak repot-repot memberi ilustrasi. Ok mampir ke Cirebon ….

  9. 9 friska 15 Agustus, 2010 pukul 12:48 pm

    saya pelajar sMa2 bae kudus,,saya mohon pengertian-perngertian dari aliran-aliran seni budaya seperti naturalisme,realisme,abstrak,dekoratifisme,ekspresionisme….lebih jls lagi…………….

  10. 10 The nepal one 13 Oktober, 2010 pukul 3:29 pm

    Klu bsa tlng bri cnth yg bnyk si,,,
    biar ank2 pljr smua bsa pd ngrti gmna bntk lukisan realisme tu.
    Mkchi

  11. 11 My.mulyadi 26 Oktober, 2010 pukul 4:21 am

    Buat aku sangat menarik rasa,ketika aku mendapat pencerahan
    Apa itu realis..
    Karena pada dasarnya peng implementasian sebuah perjalanan sebagai seniman,musti lah erat kaitan nya dgn sebuah karya yg akan diciptakannya..
    ..so realism its realist..

  12. 12 Siti Rahmah 25 September, 2011 pukul 7:42 pm

    ReAlisme itu menurut saya adalah aliran sastra yang dalam penggambarannya lebih menitik beratkan pada kenyataan tanpa di tambah atau di kurangi…..:)

  13. 13 Anonymous 25 Oktober, 2011 pukul 7:56 pm

    maaf mau tanya,
    gambar yang di atas itu karya siapa?

  14. 14 Anonymous 9 November, 2011 pukul 9:23 am

    lukisan itu buatan siapa yaaaa???

  15. 15 rose raisa haq 18 November, 2011 pukul 11:01 am

    Saya rose raisa haq.
    mohon ditulis dalan betuk buku kajian tentang tealisme lebih banyak lagi. karena akmi siswa Iain SYekh nurjati sangat merasa terbatas dalam mnecari sumber filsafat terutamakajian luas tentang tealisme.

  16. 16 Komink Punya Ambisi 21 Februari, 2012 pukul 7:19 pm

    yg saya tau hanya saya suka melukis.titik!!!!


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




Bumi Magenta!

Arsip

Bebas bertanggung jawab

Tulisan di blog ini ada di bawah lisensi Creative Commons with attribution 2.5. Syarat untuk menyalin blog ini adalah menyertakan url blog ini sebagai sumber.
Agustus 2007
S S R K J S M
    Sep »
 12345
6789101112
13141516171819
20212223242526
2728293031  

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: